Malas Menjala, Beberapa Nelayan Lebih Memilih Meracun dan Menyetrum

 

TELUK BAYUR – Memang mendapatkan ikan harus membutuhkan kesabaran, tetapi apakah mendapatkannya juga harus merusak ekosistem air? Seperti meracuni dan menyetrum.

Tetapi nyatanya, masih ada saja yang suka melakukan hal nakal tersebut, padahal sebagian besar nelayan yang berada di bantaran Sungai Segah, sudah mendapatkan bantuan dari Dinas Perikanan, berupa bantuan alat untuk menangkap ikan seperti pukat , jala, dan sebagainya.

“Alasan yang paling sering saya dapat dari teman-teman sesama nelayan, antara lain lelah, malas jika menjala atau memasang pukat, sedangkan kalau meracun atau disetrum, ikan bisa didapat dengan mudah,” ucap nelayan ikan, Bakkar, ditemui beraunews.com, Sabtu (22/04/2017).

Para nelayan yang suka meracun ataupun menyetrum berpendapat, dengan meracun hasil yang diperoleh pun cukup lumayan, tetapi di sisi lain nelayan yang menjala ataupun memasang pukat kewalahan mencari ikan, karena ikan-ikan yang berada di sekitaran sungai yang sering disinggahi para peracun dan penyetrum, berpindah tempat.

“Mau itu meracun, menyetrum, atau hanya memasang pukat. Ya mau bagaimana lagi, hanya itulah sumber pendapatan kami,” sambungnya.

Dibalik keuntungannya yang melimpah, ternyata ikan yang diracun mempunyai suatu kelemahan yaitu harus segera diolah dan dibersihkan, karena ikan-ikan tadi akan segera membusuk. Setelah melewati beberapa proses itulah, baru bisa dipasarkan kepada pengepul.

“Ikan yang diracun masih bisa dikonsumsi, tetapi jika orang yang tidak biasa makan, pasti bakal mual-mual dan diare,” kata nelayan lain, Murni.

Memang meracuni dapat dikatakan mencemari lingkungan, tetapi siapa yang patut disalahkan?. Kesadaran diri individu masing-masing saja lah yang menentukan, karena bagaimana pun para nelayan tersebut juga butuh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia