Masyarakat Teluk Bayur Tolak Rencana Alih Fungsi Lapangan Stenkholen

 

TELUK BAYUR – Adanya isu beberapa pihak akan mengalih fungsikan Lapangan Sepak Bola Stenkholen, Kecamatan Teluk Bayur menjadi alun-alun atau taman, ditolak keras oleh ratusan warga. Selain dianggap akan menghilangkan sejarah, hal tersebut juga akan berdampak pada generasi muda di Teluk Bayur.

Salah seorang warga, Hendri Baba Ali mengatakan, isu adanya rencana ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Teluk Bayur. Penolakan secara tegas pun disampaikan oleh masyarakat, mengingat lapangan tersebut merupakan peninggalan sejarah di zaman Belanda.

"Kami ini ingin menjaga peninggalan sejarah yang menjadi salah satu ciri khas Teluk Bayur sebagai pusat pemerintahan Belanda di zaman dulu," ungkapnya kepada beraunews.com, Senin (20/02/2017).

Dikatakannya, selain masalah sejarah, lapangan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu ini, saat ini menjadi salah satu kebutuhan masyarakat dalam segi olahraga, khususnya sepak bola. Para generasi muda berkualitas kerap berlatih di sini. Tak hanya itu, beberapa sekolah juga memanfaatkan lapangan ini sebagai wadah belajar praktik lapangan.

"Kalau dalam segi olahraga itu jelas, di sini juga tempat berlatihnya Sekolah Sepak Bola (SSB) dan kegiatan-kegiatan tahunan seperti perlombaan olahraga maupun Upacara HUT RI," bebernya.

Warga lain, Heri Sandi juga mengungkapkan hal senada. Ia menolak pengalihfungsian lapangan tersebut karena tak sedikit orang di luar sana yang menjadikan lapangan ini sebagai patokan mengenali wilayah Teluk Bayur. Lagipula, lapangan ini juga masuk dalam sejarah dan museum yang pastinya orang tak hanya ingin melihat foto zaman dulu saja, namun juga perubahan bentuk fisiknya sampai sekarang.

"Percuma ada di museum ataupun sejarah Teluk Bayur, tapi saat ada yang mempertanyakan wujudnya, malah tidak ada. Tidak sesuai, di foto dokumen bentuk lapangan tapi kenyataan malah taman," ucapnya.

 

Sementara itu, Rudi Aswandi menginginkan lapangan yang ada saat ini seharusnya menjadi perhatian banyak pihak untuk dikembangkan menjadi lebih baik. Bukan merubah fungsi, namun menambah sarana-sarana penunjang lainnya.

"Kita lihat saja kondisi saat ini, para pemuda susah payah menjaga dan merawat lapangan, tapi seketika rusak dengan adanya gelaran hari jadi Teluk Bayur. Bukan kami tidak mendukung, tapi mengapa harus mengorbankan lapangan yang menjadi salah satu aset Teluk Bayur?" katanya.

Mereka berharap, pemerintah bisa membantu menjaga salah satu aset sejarah di Teluk Bayur ini. Selain itu membantu mengembangkan dan memperhatikan hal-hal lainnya untuk keutuhan salah satu kebanggaan masyarakat Teluk Bayur.

Dikonfirmasi terpisah, Lurah Teluk Bayur, Herwansyah mengatakan jika memang banyak warga yang menolak alih fungsi tersebut. Namun, sebagai lurah tidak bisa menentukan persetujuan terkait hal tersebut, ia mengikuti suara terbanyak dari masyarakat sendiri.

"Kalau saya pribadi memang sayang juga kalau itu dialihfungsikan, karena ada nilai sejarahnya. Tapi dalam hal ini, kita lihat masyarakat nanti, apakah banyak yang menolak atau yang setuju," bebernya.

Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait tentang agenda tahunan Expo dalam agenda HUT Teluk Bayur. Ia mengharapkan ke depannya ada lahan khusus untuk mengadakan Expo agar tidak merusak lapangan.

"Saat penutupan Expo itu saya juga sudah koordinasi agar bisa mencari lahan sekitar 1 Hektar luasnya yang bisa digunakan untuk Expo ini, agar tidak lagi pakai lapangan, dan lapangan bisa dikhususkan untuk olahraga dan juga upacara 17 Agustus saja," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: R. Amelia