Buset... Salah Satu Rumah Makan di Biduk-Biduk Pelihara Tukik

 

BIDUK-BIDUK – Saat ini populasi Penyu semakin hari semakin terancam. Selain seleksi alam, Penyu juga kerap menjadi buruan oknum warga untuk diambil daging, telur, serta sisiknya. Hal ini tentu saja berdampak serius bagi kelangsungan biota eksotis yang juga menjadi logo Pemkab Berau ini.

Tak itu saja, ada juga yang sengaja memelihara Penyu hanya sekedar iseng. Seperti terlihat di salah satu rumah makan di Kampung Biduk-Biduk Kecamatan Biduk-biduk, yang diinformasikan komunitas pesona berau kepada beraunews.com, tengah memelihara sejumlah ekor anak Penyu (Tukik).

Padahal, dengan tegas disampaikan dalam Undang-Undang, siapapun yang kedapatan memelihara dan ataupun memperjual belikan Penyu, dilarang secara hukum. Disamping itu, pelaku juga dapat diancam dengan denda ratusan juta rupiah.

Bayu Sandi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ProFauna juga menyayangkan hal ini. Ia mengatakan, Penyu yang dipelihara oknum warga tersebut merupakan jenis Penyu sisik atau dalam bahasa latinnya bernama Eretmochelys Imbricata.

Lebih lanjut disampaikannya, Penyu merupakan hewan yang populasinya kini sudah terancam punah. Sehingga bukan hal yang dibenarkan bagi masyarakat untuk memelihara anak Penyu atau Tukik. Apalagi disebutkannya, pelaku yang memelihara Penyu dapat disangkakan melanggar Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam (SDA).

Guna menindaklanjuti informasi tersebut, pihaknya akan menelusuri informasi tersebut ke Kampung Biduk-Biduk untuk memastikan apakah ada oknum masyarakat yang tengah memelihara Tukik itu. Ia juga mengatakan, Penyu merupakan salah satu hewan langka yang harus dilestarikan. Jangankan diambil daging dan sisiknya, memelihara saja tidak diperbolehkan.

“Penyu tidak boleh dipelihara. Siapapun yang kedapatan memelihara, diancam hukuman lima tahun penjara dan denda Rp100 juta. Akan kita tindaklanjuti informasi ini,” ungkapnya melalui sambungan telepon.

Ia meminta kepada masyarakat yang ada di Kabupaten Berau untuk bersama-sama melestarikan populasi Penyu. Caranya adalah, tidak membeli aksesoris yang terbuat dari sisik atau cangkang Penyu, tidak mengkonsumsi telur Penyu, serta tidak memelihara Penyu.

“Kita juga mengajak masyarakat lain untuk bersama-sama melestarikan Penyu di Berau. Jika ada yang mengetahui perburuan Penyu, penjualan telur Penyu maupun oknum yang memelihara Penyu jangan takut untuk melaporkannya,” bebernya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: R. Amelia