Penjual Aksesoris Sisik Penyu : Asal Bupati dan Wabup Tidak Tahu, Aman !!!

 

DERAWAN – Meski Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem telah mengatur hukum bagi para pemburu maupun penjual satwa dan biota laut, namun hal itu tidak membuat aksesoris berbahan dasar organ hewan dilindungi menghilang dari peredaran.

Seperti di Pulau Derawan, meskipun tak secara terbuka, nyatanya masih ada beberapa warga yang menjual aksesoris dari sisik penyu. Aksesoris dari sisik penyu seperti cincin, gelang dan gantungan kunci dijual dengan harga beragam. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu per buah.

Seorang pedagang aksesoris sisik penyu, Nadia (nama samaran), mengaku seluruh aksesoris sisik penyu yang ia jual merupakan sisik penyu yang diperoleh langsung dari Pulau Derawan.

"Ini asli dari Pulau Derawan," ujarnya kepada beraunews.com saat berkunjung ke pulau wisata bahari tersebut, Senin (06/02/2017).

BACA JUGA : Ternyata Masih Ada Produksi Karapas Penyu di Derawan

Ketika ditanya apakah dirinya mengetahui bahwa penjualan aksesoris dari sisik penyu dilarang, Nadia mengaku telah mengetahui sejak lama. Namun karena minat wisatawan yang tinggi terhadap penyu, mendorongnya untuk terus menjual cinderamata dari bahan sisik penyu ini.

"Banyak yang cari, asal dari sisik penyu asli. Kalau dilarang, memang sudah lama saya tahu. Tapi namanya banyak yang mau, asal Bupati dan Wakil Bupati tidak tahu saja, aman," katanya.

Ditemui saat kunjungan kerjanya di Pulau Derawan, Wakil Bupati, Agus Tantomo, sempat menyinggung terkait konservasi biota laut tersebut. Keberagaman biota laut yang dimiliki Berau, dikatakannya harus menjadi tanggungjawab Pemkab bersama masyarakat untuk melestarikannya.

BACA JUGA : Aksesoris Sisik Penyu Masih Marak Di Pulau Derawan

Untuk memberikan perlindungan, selain dengan UU tersebut, ia juga sudah menegaskan kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak lagi memburu, menangkap dan bahkan membunuh satwa dan biota yang dilindungi, termasuk penyu sebagai ikon Berau.

"Tiga hari yang lalu saya sudah instruksikan dan saya tegaskan tidak boleh ada lagi yang menangkap apalagi sampai membunuh hewan-hewan dilindungi, baik itu hiu, pari manta, bekantan, pesut, dugong, termasuk penyu. Karena itu semua adalah kekayaan satwa dan biota yang membuat Berau punya nilai lebih dibandingkan daerah lainnya," jelasnya.

 

Untuk meminimalisir perburuan biota laut, khususnya penyu, dikatakannya Pemkab akan memprogramkan bantuan alat untuk pembuatan aksesoris dari bahan yang lebih ramah lingkungan serta tidak mengancam keberadaan penyu tersebut.

"Berapa pun harganya dijual, kami tidak akan mengizinkan penangkapan apalagi pembunuhan terhadap hewan-hewan dilindungi tersebut. Kami juga akan melakukan pembinaan kepada para penjual aksesoris dari sisik penyu ini untuk membuat dari bahan yang tidak mengancam kepunahan dari penyu," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia