Pesut Mahakam Kategori Kritis, di Berau Harapan Baru

 

TANJUNG REDEB – Siapa sangka jika wilayah perairan Delta Berau menjadi habitat satwa langka dan dilindungi, Pesut (Orcaella brevirostris). Karena alasan inilah, perlu mendapat perhatian khusus untuk dilestarikan.

Saat kunjungan penelitian di perairan Delta Berau, peneliti satwa Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA), Tri Atmoko dan Mukhlisi, sangat beruntung dapat menjumpai dan mengabadikan satwa langka tersebut.

Dalam kurun waktu penelusuran sungai-sungai dan pulau yang ada di Delta Berau, 3-10 Agustus 2016, tercatat sebanyak dua kali perjumpaan dengan mamalia air tersebut. Menurut Mukhlisi, perjumpaan pertama terjadi di sekitar Pulau Badak-Badak, Kecamatan Pulau Derawan, Jumat (05/08/2016), sedangkan perjumpaan kedua terjadi dua hari kemudian di Muara Sungai Mantaritip, Kecamatan Sambaliung.

“Beberapa kali sepasang pesut melompat ke permukaan air secara bergantian dan sesekali menyemburkan air ke atas," lanjut Mukhlisi, sebagaimana dikutip beraunews.com dari laman resmi forda-mof.org, Jumat (27/01/2017).

BACA JUGA : WOW...!!! Bukan Hanya di Sungai Mahakam, Pesut Juga Terlihat di Perairan Berau

Tri Atmoko menyatakan, penyebaran Pesut meliputi perairan tropis dan sub-tropis di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sebarannya terbagi dalam lima sub-populasi, yaitu Sub-populasi Sungai Ayeyarwady, Sungai Mekong, Danau Songkhla, Selat Malampaya, dan Sungai Mahakam.

 

Populasi pesut di Delta Berau diperkiraan masih dalam kelompok sub-populasi Sungai Mahakam. Saat ini sub-populasi tersebut menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) termasuk dalam kategori kritis atau spesies hampir punah (Critically Endangered).

“Informasi terkait keberadaannya di perairan Delta Berau masih sangat terbatas jika dibandingkan yang ada di Sungai Mahakam, sehingga masih diperlukan banyak kajian dan penelitian," lanjut Tri.

Menurut beberapa masyarakat sekitar memang pernah menjumpai kemunculan Pesut di perairan Delta Berau. Ridi Haidir, warga Kampung Batu-Batu, Kecamatan Gunung Tabur, yang ikut menyaksikan kemunculan pesut tersebut mengaku pernah melihat di sekitar pulau pada tahun 2012 lampau.

“Ini adalah kali kedua saya melihat Pesut di daerah sini," ungkap Ridi.

BACA JUGA : Soal Keberadaan Pesut di Berau, Ini Kata Kanopi

Sedangkan Aliansyah, seorang nelayan lokal, menyatakan bahwa daerah sekitar Pulau Badak-Badak adalah memang tempat hidup dari Pesut tersebut. Menurut pengalamannya, dia pernah menyaksikan sekitar 15 ekor Pesut yang sedang berenang di lokasi tersebut.

 

Cukup sulit mengabadikan mamalia air ini. Lokasi kemunculannya yang tak terduga dan hanya muncul dalam hitungan detik, cukup menyulitkan saat mengarahkan moncong kamera.

“Belum lagi gelombang air yang menggoyang perahu yang kami naiki, menjadikan beberapa hasil jepretan kamera gagal fokus," terang Tri Atmoko.

Keberadaan satwa dilindungi seperti Pesut di Delta Berau harus segera disadari, khususnya oleh pemerintah daerah agar upaya perlindungan dan pelestarian habitatnya segera dilakukan. Mengingat saat ini banyak sekali aktivitas pembangunan tambak yang terus berlangsung di Delta Berau.(***SBJ/bnc)