Taman Mangrove Pertama di Berau Akan Dibangun, Bekantan Juga Ada

 

TANJUNG REDEB – Kesadaran pemerintah Kampung Batu-Batu, Kecamatan Gunung Tabur terhadap pengembangan wisata sebagai sarana peningkatan taraf ekonomi warga, saat ini mulai dikembangkan oleh pemerintah setempat bekerjasama dengan masyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan rencana pengembangan objek wisata taman hutan mangrove yang akan segera digarap.

Sekretaris Kampung Batu-Batu Andy Iswadi saat berbincang dengan beraunews.com mengatakan, rencana pembangunan taman ini akan dimulai dari pembangunan tracking (jalur pembibitan-red) terlebih dahulu. Pembangunan tracking ini memanfaatkan bahan yang sederhana sesuai dengan yang tersedia di kampung, seperti bahan dari tanaman sejenis palm atau yang biasa disebut warga sebagai pohon aniung.

“Nah itulah yang akan kita jadikan bahan membangun tracking, jadi ini merupakan langkah awal untuk memacu pariwisata di Kampung Batu-Batu . Apabila sudah mulai ada perkembangan, nantinya tidak menutup kemungkinan kita akan ganti tracking yang ada dengan material yang lebih bagus,” ungkapnya kepada beraunews.com, Selasa (24/01/2017).

Sejatinya, rencana pengembangan objek wisata hutan mangrove ini telah dirancang sejak awal tahun 2016, akan tetapi penerimaan masyarakat saat itu belum begitu baik sehingga perlu sosialisasi yang cukup panjang. Akhirnya di tahun ini rencana ini sudah disetujui dengan luasan mencapai 15 hektar dari total rencana pembangunan 40 hektar, dan akan segera kita masukkan dalam RAPBK 2017 dengan total dana yang disiapkan mencapai Rp150 juta melalui Alokasi Dana Kampung (ADK).

“Untuk konsep pembangunan taman wisata ini sendiri nantinya akan dilakukan oleh masyarakat Batu-Batu. Jadi ada swadaya dari masyarakat dicampur dengan pembiayaan dari kampung, konsep gotong royong lebih ditekankan di sini,” imbuhnya.

Nantinya, selain taman hutan mangrove, objek wisata ini juga menyediakan pemandangan lain, yakni keberadaan puluhan ekor Bekantan yang terbagi menjadi dua kelompok dengan jumlah perkelompok mencapai 25 ekor. Tak sampai di situ, para pengunjung juga dapat melihat lebih dekat reptil buaya sungai serta monyet ekor panjang.

BACA JUGA : Wah Rupanya Bekantan di Tarakan Asalnya Dari Berau

Jika selama ini keberadaan monyet ekor panjang dinilai sebagai hama oleh masyarat, tetapi dengan hadirnya taman mangrove ini akan dicoba untuk dimanfaatkan sehingga mempunyai nilai wisata dan menghasilkan rupiah bagi warga.

“Kita berharap taman yang kami rencanakan ini akan kami padukan dengan konsep yang telah direncanakan yakni, perpaduan taman mangrove dengan pemukiman yang berbasis biogas, jadi akan terkoneksi atau biasa disebut sebagai eco wisata,” jelasnya.

Rencananya, pembangunan akan dimulai tahun 2017 setelah proses pencairan dana ADK tahun 2017 tahap I dilakukan, untuk pengelolaan objek wisata ini akan langsung dilakukan oleh masyarakat melalui LPM.

“Karena sebelumnya sudah diajukan ke pemerintah daerah namun belum direspon, akibatnya kami putuskan manfaatkan ADK. Target rampung tahun ini sehingga tahun depan sudah dapat beroperasi,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: M.S. Zuhrie/Editor: R. Amelia