Lahan Sengketa, Perusahaan Malah Tebangi Pohon Kelompok Tani

 

GUNUNG TABUR – Persoalan sengketa lahan di Kabupaten Berau memang tak pernah ada habisnya. Seperti yang kali ini menimpa kelompok tani Banua Seturut, Kecamatan Gunung Tabur dengan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Salah satu anggota kelompok tani Banua Seturut, Syafriansyah mengungkapkan, pertemuan yang difasilitasi langsung oleh aparatur pemerintahan setempat, guna menyelesaikan sengketa lahan seluas 400 hektar itu, telah beberapa kali dilaksanakan sebelumnya. Pertemuan itu pun menghasilkan kesepakatan secara lisan, bahwa kedua pihak harus menunggu hasil dari pemeriksaan yang dilakukan instansi terkait dari tingkat kabupaten, sebelum mengadakan aktivitas di lapangan.

Namun, hingga hari ini belum ada instansi terkait dari tingkat kabupaten yang melakukan pemeriksaan. Begitu kelompok tani itu kembali meninjau lokasi yang masih berada di wilayah Kelurahan Gunung Tabur tersebut, lanjut Syafriansyah, ternyata lahan yang diklaim merupakan milik mereka, telah habis diobrak-abrik, dan semua pohon yang ada di dalam lokasi telah ditebang pihak perusahaan.

“Walaupun lisan, semua kesepakatan itu dilanggar sama pihak perusahaan. Artinya, tetap mengadakan aktivitas di lapangan tanpa sepengetahuan kelompok tani,” ujarnya didampingi Ketua dan Sekretaris kelompok tani Banua Seturut, Erwin Hanafi dan Suhaidi, saat ditemui beraunews.com, Senin (16/01/2017) pagi, di kantor Camat Gunung Tabur.

 

Atas dasar itu, kelompok tani itu pun meminta pihak perusahaan untuk menghentikan aktivitasnya sementara. Jika permintaan tersebut tidak digubris, tegas Syafriansyah, kelompok tani dapat berbuat yang lebih jauh lagi.

“Artinya, kesepakatan dia tidak prosedural, kami juga tidak perlu pakai prosedural,” tegasnya.

Lahan seluas 400 hektar yang terletak di kilometer 52, Kelurahan Gunung Tabur itu, jelas Syafriansyah, merupakan milik 200 anggota kelompok tani Banua Seturut. Bahkan sebagian anggota kelompok tani telah bercocok tanam di lahan itu, dan sebagian ada yang belum.

“Diperkiraan, sekitar 60 hektar lebih yang sudah di-land clearing perusahaan. PT Anugerah Energi Tama, yang punya konsesi kebun. Sementara, yang punya IPK (Izin Pengelolaan Kayu-red), kami tidak tahu sampai saat ini perusahaan apa,” jelasnya.

 

Sementara itu, Camat Gunung Tabur, Mulyadi membenarkan adanya laporan kelompok tani Banua Seturut terkait sengketa lahan dengan sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, yang hingga kini belum ada titik temu antara kedua belah pihak. Dimana, pihak perusahaan malah diduga telah melanggar kesepakatan yang dibuat sebelumnya.

“Kami akan berupaya untuk kembali memediasi lagi, akan kami panggil pihak-pihak yang berkepentingan. Ya mungkin dari tim teknisnya, dari perkebunan, BPN, perusahaan dan Muspika sendiri. Inikan ada 2 kelompok, dan 2 kelompok ini kita undang lagi juga,” katanya.

Dikatakan Mulyadi, ia sebetulnya tidak terlalu tahu duduk perkara ini. Sebab, ia baru beberapa hari saja menjabat sebagai camat baru menggantikan Nazaruddin, yang kini dipercaya sebagai Camat Teluk Bayur.

Untuk itu, ia akan terlebih dulu mempelajari dan menanyakan langsung kepada kepala seksi bidang pemerintahan Kecamatan Gunung Tabur, terkait kronologis sengketa lahan tersebut.

“Jangan sampai nanti kalau kita serahkan ke camat baru, akan kembali nol lagi dan kurang efektif. Jadi, mungkin dalam waktu dekat, tadi sudah kita agendakan. Mungkin Kamis atau hari apa, akan dipanggil kembali semua pihak terkait,” pungkasnya.

Sementara itu, upaya beraunews.com mengkonfirmasi pihak perusahaan, belum membuahkan hasil. Pernyataan dari pihak perusahaan akan dimuat dalam berita selanjutnya.(bnc)

Wartawan: Andi Sawega/Editor: R. Amelia