Soal Puluhan Kepala Kampung Dukung Pabrik Semen, Itu Murni Secara Pribadi

 

BIDUK-BIDUK – Meskipun puluhan kepala kampung telah menyatakan sikap mendukung rencana pembangunan industri pabrik semen di Kampung Teluk Sumbang Kecamatan Biduk-Biduk, ternyata tidak diimbangi dengan masyarakatnya.

Bahkan tak sedikit warga yang secara terang-terangan menolak rencana tersebut. Seperti yang diungkapkan salah seorang warga RT01 Kampung Biduk-Biduk, Mashud. Ia mengatakan, apa yang dikatakan sejumlah kepala kampung tersebut tidak mewakili masyarakat di kampungnya masing-masing.

"Jika ada kepala kampung yang mengatakan masyarakatnya mendukung, itu tidak benar. Saya kira pernyataannya itu adalah pernyataan dari kepala kampung pribadi, bukan hasil musyawarah bersama masyarakat," ungkapnya kepada beraunews.com, Senin (16/01/2017).

BACA JUGAKepala Kampung di Biduk-Biduk Dukung Penuh Rencana Industri Semen 

Ditambahkannya, sebagian besar masyarakat yang ada di wilayah Biduk-Biduk masih menolak rencana tersebut. Ia menilai, apa yang diperjuangkan terkait mendukung rencana pembangunan pabrik semen itu masih belum bisa dikatakan mewakili kesejahteraan masyarakat.

"Itu kan masih sebatas omongan saja. Kita tidak tahu, apakah benar perusahaan itu komitmen atau tidak. Jangan sampai ini hanya untuk menarik simpati dari masyarakat saja," bebernya.

 

Fitri, salah seorang mahasiswa yang juga warga Kampung Biduk-Biduk mengatakan hal senada. Dikatakannya, pabrik semen belum tentu bisa mensejahterakan masyarakat. Sebab, tenaga kerja yang diserap perusahan pabrik semen, diambil dari masyarakat Biduk-Biduk, masih belum memiliki skill (kemampuan) dan pendidikan yang mumpuni.

Disamping itu, hal yang menjadi kekhawatirannya adalah, dampak lingkungan yang diakibatkan oleh industri itu sendiri. Padahal, pabrik semen itu bukan sebuah keharusan, dimana banyak kalangan yang menilai, semen masih sangat defisit.

BACA JUGA : 27 Kepala Kampung Dukung Rencana Pabrik Semen Berau

Ia juga menilai terkait penyampaian kepala kampung yang mendukung rencana itu, juga berseberangan dengan masyarakat di kampung masing-masing. Meskipun ia juga mengakui, ada juga sebagian masyarakat yang memang mendukung pendirian pabrik.

"Pabrik semen ini adalah bentuk investasi ekstraktif yang menggali hasil di dalam bumi yang tentunya akan merusak lingkungan, apalagi kekayaan alam yang akan dibangun adalah sumber kekayaan alam non hayati, yang tidak bisa diperbaharui. Tidak tepat rasanya jika harus mengeksploitasinya demi sebuah kepentingan yang belum tentu mensejahterakan masyarakat sekitarnya," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: R. Amelia