Melihat Kampus Orang Utan Di Merasa, “Diselamatkan, Disekolahkan lalu Dilepaskan”

 

KELAY – Centre for Orangutan Protection (COP) Borneo di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay kini telah menangani 20 orangutan yang merupakan korban dari pembalakan hutan. Setengah diantaranya sudah masuk dalam tahap pra pelepasliaran di Pulau Orangutan, dan pada tahun 2017 nanti direncanakan sudah kembali ke habitat aslinya di Hutan Lindung Sungai Lesan.

Side Manager COP Borneo, Paulinus mengatakan, 10 orangutan yang akan dilepas ke alam liar ini sudah ditangani selama setahun lebih sejak 2015 lalu. Sebelum masuk ke hutan, ada empat tahap proses rehabiltasi yang harus dilalui orangutan terlebih dahulu, diantaranya karantina, sosialisasi, pra pelepasliaran dan pelepasliaran.

“Karena ini merupakan orangutan dewasa, jadi sudah bisa langsung kita masukan dalam tahap pra pelepasliaran atau sering kita sebut universitas hutan. Sementara 10 lainnya masih anak-anak dan remaja, jadi harus kita ajari dulu bagaimana cara bertahan hidup, seperti mencari makan dan memanjat pohon. Kalau langsung kita lepaskan bisa berbahaya bagi mereka, karena tidak pernah belajar seperti itu. Kan sejak kecil sudah terpisah dari induknya akibat kerusakan hutan, sebagian juga ditinggal mati induknya,” ujarnya kepada beraunews.com, Sabtu (31/12/2016).

Paulinus juga mengaku, dari hasil pemantauan dan evaluasi selama beberapa bulan terakhir, ia menilai 10 orangutan ini sudah siap untuk dilepaskan ke alam liar. Pertimbangannya, sudah bisa mencari makan sendiri, membuat sarang serta bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam tahap pra pelepasliaran ini, pihaknya membuat seolah-olah orangutan ini berada dalam hutan yang sesunguhnya.

“Secara umum sudab siap mereka, tinggal tunggu waktu yang tepat saja,” tambahnya.

 

Selain melakukan proses rehabilitasi, orangutan yang berada di pulau ini juga dimanfaatkan sebagai objek wisata. Lokasinya yang tidak jauh dari pusat perkampungan dengan menempuh melalui jalur sungai menggunakan perahu kecil.

“Yah sekalian membantu pendapatan masyarakat disini juga lewat jasa sewa ketinting (perahu kecil). Jadi wisatawan yang datang bisa memberi makan langsung, tapi harus dari atas ketinting karena orangutan ini kan masih liar, takutnya terjadi apa-apa,” pungkasnya.(M.S. Zuhrie)