Bom Ikan Ancam Keanekaragaman Hayati Laut Derawan

 

TANJUNG REDEB – Kekayaan laut Berau kini terancam dengan praktik bom ikan yang saat ini masih saja dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab. Hal ini pun harus mulai diwaspadai dari sekarang sebelum kekayaan ini tidak akan bisa dinikmati lagi kedepannya.

Disampaikan Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, potensi yang sangat besar ini harus dijaga sejak dini. Kondisi ini dikhawatirkan membuat keanekaragaman di laut Berau menjadi berkurang seiring kerusakan terumbu karang sebagai tempat hidup para ikan, akibat bom ikan. Padahal, potensi karang di Berau sangat indah karena masuk dalam gugusan segitiga karang.

Dijelaskan Wabup, praktik ilegal seperti ini sangat sulit dihapuskan. Dari hasil evaluasi di lapangan, para pelaku merakit bom ikannya langsung di perahu pada saat ingin mengebom. Tentu kondisi ini menjadi kesulitan bagi aparat hukum dengan tidak adanya barang bukti saat ingin mengamankan para pelaku.

Untuk memberantas praktik ini, kata Wabup, pihaknya telah menurunkan tim ke pasar-pasar ikan dan memberikan peringatan kepada sejumlah penjual untuk tidak membeli ikan dari hasil bom ikan. Ia mewanti-wanti para pembeli ikan dari pelaku ini karena perbuatan itu masuk dalam ranah pidana.

“Yang membeli ini bisa dibilang penadah karena mendukung tindakan ilegal ini. Pastinya ini akan dipidanakan. Langkah pertama ini sudah kita lakukan dan hasilnya cukup bagus. Kalau tidak ada pembeli lagi tentu pelaku ini akan rugi,” ungkap Wabup saat membuka lomba mancing Bupati Cup 2016 di Pulau Derawan.

BACA JUGA : Promosi Wisata Lewat Lomba Mancing

Selain hilangnya keanekaragaman laut, kerusakan terumbu karang ini juga bisa menjadi perusak bagi program pariwisata Berau. Dengan fokus pemerintah kedepannya dalam memajukan pariwisata, tentunya tidak akan didukung jika potensi laut yang ada telah hancur akibat bom ikan. Sejauh ini, promosi yang dilakukan pemerintah dengan menjual keindahan laut dengan keanekaragaman terumbu karangnya.

“Ini kan menjadi objek wisata andalan kita. Tentu para diver tidak akan senang melihat terumbu karang yang rusak dan mengembalikannya pasti sangat lama,” pungkasnya.(M.S. Zuhrie)