Ini Penjelasan Ahli Biologis Terkait Sungai Segah

 

TANJUNG REDEB – PT Parama Mulabhakti selaku pemenang tender proyek kajian kapasitas daya tampung dan daya dukung Sungai Segah, Kabupaten Berau telah memaparkan hasil kajian yang telah dilakukannya selama 3 bulan ini kepada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Berau.

Konsultan PT Parama Mulabhakti, Nurdin selaku Ahli Biologi mengakui hasil kajian yang dilakukan pihaknya belum dapat menjawab penyebab terjadinya fenomena Sungai Segah. Sebab, pengambilan data uji kualitas air baku Sungai Segah untuk mengkaji kondisi Sungai Segah secara komprehensif seharusnya dilakukan secara berkala dan tidak hanya dalam waktu setahun maupun hanya pada musim kemarau saja.

Seharusnya, lanjut Nurdin, pengujian kualitas air baku Sungai Segah dilakukan secara berkala sehingga data hasil uji kualitas itu dapat menjadi variabilitas atau data pembanding. Selain itu, pengujian secara berkala itu seharusnya telah dilakukan BLH sejak lama dan menjadi agenda rutin BLH dengan cakupan titik pengambilan sampel yang lebih luas lagi.

“Kami sudah ada beberapa titik pengambilan sampel dan itu bisa saja digunakan pihak BLH untuk melakukan hal yang sama. Dengan mengambil sampel di titik-titik kami tadi, itu bisa permulaan dapat monitoring selanjutnya,” ujarnya.

BACA JUGA : Hasil Kajian Sungai Segah “Belum Memuaskan” Peserta Presentasi Antara

Terkait Biological Oxygen Demand (BOD) yang rendah pada Sungai Segah, menurut Nurdin, hal ini bisa disebabkan oleh produktifitas hutan akan zat yang mengandung kadar asam yang tinggi, sehingga proses dekomposisi terjadi cepat. Dimana, BOD merupakan salah satu parameter yang menandakan kondisi pencemaran air.

Selain itu, hal ini juga karena kondisi geografis Kabupaten Berau yang berada di kawasan hutan tropis dan hampir berada di titik nol derajat khatulistiwa, sehingga suhu yang ada cukup panas dengan kelembapan yang tinggi. Kondisi ini juga mempercepat terjadi dekomposisi.

“Ditambah lagi, tanah disini kadar lempungnya cukup tinggi karena dia konsolit atau ultisol, sehingga tidak bisa disimpan di bawah (tanah),” jelasnya.

Dengan kondisi curah hujan yang tinggi, tambah Nurdin, hasil dekomposisi yang berupa unsur-unsur substansi asam humik akhirnya dapat ikut dan terlarut masuk ke air baku Sungai Segah. Jika tetap dalam kondisi seperti ini, tentu akan sulit untuk mempertahankan kondisi sungai tetap menjadi sungai kelas satu yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum.

“Bisa diartikan bukan kita menentang alam, namun kita harus bisa berdaptasi dengan alam,” tambahnya.

Terkait Total Suspended Solid (TSS) atau zat padat tersuspendi yang rendah, ungkap Nurdin, biasanya ditandai dengan kondisi air menjadi jernih. Namun, dengan perubahan warna air menjadi kecoklatan, maka berarti Total Disolve Solid (TDS) atau zat padat terlarutnya menjadi tinggi.

TSS akan akan lebih mengendap jika aliran sungai dan arusnya cukup merata. Sementara, itu berbeda dengan TDS yakni tidak mengendap.

“Itu hutan juga berpengaruh meskipun tidak terlalu besar namun perlu dikaji lagi,” pungkasnya.(Andi Sawega)