Hasil Kajian Sungai Segah “Belum Memuaskan” Peserta Presentasi Antara

 

TANJUNG REDEB – Bertempat di ruang rapat Kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) Berau, Kamis (8/12/2016) siang, PT Parama Mulabhakti selaku pemenang tender proyek kajian kapasitas daya tampung dan daya dukung Sungai Segah di Kabupaten Berau dengan pagu anggaran Rp650 juta telah menggelar presentasi antara terkait hasil kajiannya kepada BLH Berau. Presentasi ini merupakan kali ke-2 yang dilakukan oleh konsultan asal Jawa Barat itu.

Persentasi itu dilakukan dihadapan Kepala BLH Berau, Zulkifli yang didampingi jajaran pejabat dan staf di lingkungan BLH Berau, Dinas Kelautan dan Perikanan yang diwakili Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Yunda Zuliarsih, Direktur PDAM Tirta Segah, Adief Mulyadi yang didampingi Kepala Sub Bagian Produksi, Asra Samsut serta undangan lainnya.

Kepala BLH Berau, Zulkifli melalui Kabid Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan (PPL) Iswahyudi mengungkapkan, hasil kajian yang dipaparkan pada persentasi antara kali ini bukan merupakan hasil final yang akan dipublikasikan kepada pemerintah daerah maupun masyarakat Berau. Namun, untuk mencari masukan-masukan dari berbagai pihak yang diundang agar dilakukan perbaikan oleh pihak PT Parama Mulabhakti.

“Tentu masih ada harapan peserta (persentasi antara) yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan (PT Parama Bulabhakti). Namun, ini menjadi bahan kami hingga dapat mendekati final nanti dan sesuai dengan apa yang kita harapkan,” ungkapnya.

BACA JUGA : Besok Persentasi Kajian Fenomena Sungai Segah Kembali Digelar, BLH : Kalau Tak Logis Kita Juga Akan Tolak

Hasil kajian ini, lanjut Iswahyudi, juga memang bukan untuk menjawab secara langsung penyebab terjadinya fenomena Sungai Segah yang diduga tercemar bakteri Cyanobacteria pada beberapa bulan lalu. Mengingat, kajian kapasitas daya tampung dan daya dukung Sungai Segah hanya dilakukan pada bulan Agustus lalu, dimana masuk pada musim kemarau dengan intensitas curah hujan hanya 72,4 mm dan berlangsung selama 10 hari saja. Selain itu, kondisi fenomena Sungai Segah yang terjadi sebelumnya tidak terjadi kembali pada saat kajian dilakukan.

“Data daya tampung Sungai Segah pada saat musim kemarau dan musim hujan, itulah yang juga diminta oleh pihak Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada waktu kami melaksanakan uji sampel disana dan menjelaskan fenomena Sungai Segah. Makanya, kami akan kembali melakukan pengujian pada saat musim hujan dan posisi air pasang surut juga,” lanjutnya.

Dengan adanya hasil kajian ini, tambah Iswahyudi, akan menjadi dasar untuk BLH untuk menyusun program pengendalian pencemaran dan kerusakan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Segah. Selanjutnya, menjadi salah satu pedoman penyusunan dan evaluasi tata ruang DAS Segah, pedoman dalam pemberian izin pembuangan air limbah dan pemanfaatan sumber daya air DAS Segah. Serta untuk penyusunan kebijakan pengendalian pencemaran air untuk penyusunan kelas sungai berdasarkan segmentasi Daya Tampung Beban Pencemaran Sungai Segah.

“Sampel yang diambil itu pada bulan Agustus lalu dan posisi kejadiannya sudah tidak ada semua. Artinya, kami mau justifikasi, sudah tidak ada pada kejadiannya karena air itu bisa dengan cepat berubah. Tapi, dari hasil penelitian ini, kami bisa mengetahui seperti apa kondisi Sungai Segah saat ini,” tambahnya.

Usai mendengarkan langsung hasil kajian itu, jelas Iswahyudi, ternyata berdasarkan data yang diambil pada bulan Agustus lalu, kondisi air baku Sungai Segah masih cukup baik. Dari sejumlah parameter yang diuji, hanya ada satu parameter yang cukup tinggi, yakni kandungan zat besi (Ferrum atau Fe) pada air baku Sungai Segah.

“Pada bulan Agustus lalu, uniknya data kami (menunjukkan) kondisi Sungai Segah masih cukup baik. Hanya saya memang kandungan Fe (Besi) cukup tinggi, tapi dari dulu memang seperti itu,” pungkasnya.(Andi Sawega)