Wah Rupanya Bekantan di Tarakan Asalnya Dari Berau

 

TARAKAN – Kebaradaan bekantan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan Provinsi Kaltara, ternyata berasal dari Kabupaten Berau. Hal itu diungkapkan Wakil Koordinator KKMB Tarakan, Syamsul saat beraunews.com mengujungi objek wisata popular di Tarakan tersebut.

Dikatakannya, awalnya di tahun 2001 hanya 6 ekor bekantan yang didatangkan dari Berau, terdiri dari 4 ekor betina dan 2 ekor jantan. Saat ini, populasi bekantan yang berada di objek wisata itu sudah mencapai 35 ekor.

“Ini bekantan kami adopsi dari Berau, sekarang sudah berkembang biak setidaknya menjadi 35 ekor yang terbagi menjadi 3 kelompok. Untuk mengetahui populasi pasti bekantan di KKMB ini, kami melakukan perhitungan setiap bulan Desember,” ungkapnya, Sabtu (18/11/2016).

BACA JUGA : Wabup : Bekantan di Pulau Besing Lebih Banyak Dibanding Tarakan

Dahulu memang keberadaan bekantan kurang menjadi perhatian masyarakat, namun saat ini justru keberadaan bekantan di KKMB menjadi aset penting dan sangat diminati pengunjung, walapun populasinya masih terbatas.

Menurut syamsul, saat ini penghasilan objek wisata taman mangrove ini sedikitnya Rp10 juta per bulannya dari penjualan tiket sebesar Rp3.000 setiap pengunjung dewasa dan Rp2.000 anak-anak. Jumlah tersebut akan meningkat drastis ketika libur sekolah dan libur lebaran.

“Dulu bekantan ini tidak ada yang peduli, tapi saat ini bekantan inilah yang menjadi icon Tarakan. Orang datang kesini ya karena mau lihat bekantan, bahkan wisatawan mancanegara maupun luar daerah termasuk Berau banyak kesini,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang wisatawan asal Berau, Nur Riska Dewi mengatakan, dirinya sangat puas melihat langsung bekantan di objek wisata hutan mangrove itu, namun dirinya juga sangat menyayangkan mengapa Berau yang menjadi habitat asli bekantan justru lagi-lagi kecolongan dari Tarakan.

“Berau sudah kalah soal Derawan dari Tarakan, dan kita harus akui itu. Sekarang kita kalah lagi soal pengelolaan bekantan. Padahal mereka ambilnya dari Berau dan jumlahnya terbatas, tapi lihat kini jadi icon Tarakan,” pungkasnya.(M.S. Zuhrie)