Diperkirakan 50 Persen Terumbu Karang Telah Rusak

PULAU DERAWAN – Kondisi terumbu karang di laut Indonesia mengalami penurunan. Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 9 Agustus 2015 lalu, diketahui kondisi terumbu karang yang masih baik hanya tersisa 30 persen.

Berdasarkan pantauan beraunews.com, kondisi serupa juga terjadi di wilayah perairan Kepulauan Derawan. Sebut saja misalnya, terumbu karang di sekitar pulau Sangalaki yang mengalami perubahan warna menjadi warna kehitaman sebagai tanda matinya terumbu karang.

Hal itu dibenarkan Kepala Bidang Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Dinas kelautan dan perikanan (DKP) Berau, Yunda Zuliarsih. Dia menyadari jika kondisi terumbu karang di perairan Kepulauan Derawan diperkirakannya 50 persen telah mengalami kerusakan.

“Kondisi terumbu karang di perairan kepulauan derawan memang saat ini menjadi perhatian kami. Diperkirakan 50 persen dalam kondisi baik dan 50 persen lagi telah rusak. Kerusakan tersebut disebabkan oleh aktivitas menangkap ikan oleh nelayan yang tak ramah lingkungan, seperti menggunakan bom dan potasium,” ungkapnya saat dikonfirmasi beraunews.com.

Dikatakannya, pihaknya sudah 3 tahun ini tak pernah melakukan monitoring terumbu karang. Lantaran, tidak tersediannya anggaran. Yunda juga tidak bisa memastikan apa penyebab kerusakan itu.

“Kami belum tau apakah kerusakan terumbu karang di Berau disebabkan coral bleaching (pemutihan karang-red). Kami sendiri maupun pemerintah setempat belum pernah melakukan penelitian soal coral bleaching lantaran tak memiliki dana lebih. Kami juga tidak tau apakah sejauh ini ada pihak lain yang melakukan penelitian terhadap kondisi terumbu karang di perairan Berau, sebab mereka tidak pernah memberikan laporan kepada kami,” tuturnya.

Ditambahkannya, pihaknya sudah melakukan upaya untuk mengembalikan potensi terumbu karang yang telah rusak tersebut guna menjamin kelestarian dan keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang. Caranya, melalui aksi penyelamatan terumbu karang dengan transplantasi terumbu karang di sekitar wilayah Kepulauan Derawan yang di mulai sejak tahun 2010 lalu.

“Sejak tahun 2010 hingga kini, kami telah menjalankan program tranplantasi terumbu karang di beberapa wilayah Kepulauan Derawan. Namun besar kemungkinan kerusakan terumbu karang ini disebabkan aktivitas bom ikan dan bisa juga di pengaruhi oleh pemanasan global,” tutupnya.

Untuk diketahui, terumbu karang (coral reef) bukan sekedar menjadi tempat hidup dan berkembangnya biota laut. Namun, juga memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan, diantaranya bermanfaat secara ekologi, ekonomi dan sosial. Oleh sebab itu, terumbu karang sangatlah penting untuk kita jaga bersama.(ea)