Pegiat Pariwisata Ajak Gubernur Kaltim Kaji Multiplier Effect Sektor Pariwisata Biduk-Biduk

 

TANJUNG REDEB – Setelah menulis surat terbuka, pegiat pariwisata yang juga pendamping Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), sekaligus penyuluh sadar wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah  ingin benar-benar meyakinkan Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak jika dengan pariwisata masyarakat benar-benar bisa sejahtera, tanpa harus mengandalkan sektor industri.

Bahkan ia berharap Gubernur mempertimbangkan kembali izin pabrik semen dan sawit di Biduk-Biduk. Ia justru menyarankan, agar Pemprov Kaltim lebih konstenrasi ke pengelolaan pariwisata yang kini menjadi sektor andalan Kabupaten Berau. Ketimbang mengambil kebijakan yang berpotensi merusak pariwisata.

Padahal dikatakannya, dengan berkembangnya kegiatan pariwisata tentu memberi efek yang sanga bagus terhadap perkembangan perekonomian masyarakat setempat. Hal itu diakibatkan dari multiplier effect sektor pariwisata. Dengan kondisi itu, masyarakat jadi semakin sadar, bahwa ada banyak peluang yang bisa diusahakan dari kegiatan pariwisata.

BACA JUGA : Protes Izin Semen dan Sawit, Pegiat Pariwisata Buat Surat Terbuka Untuk Gubernur Kaltim

Berikut pemaparannya tentang gambaran nyata, dari peluang usaha yang timbul akibat multiplier effect atau efek ganda yang ditimbulkan sektor pariwisata. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat :

Menurut Glasson (1990), multiplier effect adalah suatu kegiatan yang dapat memacu timbulnya kegiatan lain. Berdasarkan teori ini, dapat dijelaskan bahwa industri pariwisata akan menggerakkan industri-industri lain sebagai pendukungnya.

Komponen utama industri pariwisata adalah daya tarik wisata berupa destinasi dan atraksi wisata, perhotelan, restoran dan transportasi lokal. Sementara komponen pendukungnya, mencakup industri-industri dalam bidang transportasi, makanan, dan minuman, perbankan, atau bahkan manufaktur. Semuanya dapat dipacu dari industri pariwisata.

Baik turis lokal, nusantara maupun mancanegara membutuhkan poin-poin berikut ini, dan contoh efek ganda yang ditimbulkan sektor pariwisata, yaitu :

  1. Transportasi : Baik darat laut dan udara. Menimbulkan banyak peluang usaha, Maka dibutuhkan adanya Tour and Travel agent, paket tour, ticketing, guide, rental mobil, dan speedboat. Dari beberapa peluang usaha tersebut, akan menimbulkan kebutuhan akan SDM dari tingkat manajerial hingga karyawan dari pilot, driver, accounting, administrasi sampai montir, serta mendatangkan investor. Kegiatan transportasi juga memicu usaha retail sparepart kendaraan, bengkel, kegiatan makan minum yang disediakan oleh Airline atau biro perjalanan.
  2. Akomodasi : Kebutuhan akomodasi yang meningkat, memacu masyarakat Biduk-Biduk, untuk menyediakan sarana penginapan berupa homestay, memanfaatkan kamar yang ada di dalam rumah, dan kemudian dilengkapi dengan fasilitas yang dibutuhkan. Tingkat kunjungan wisatawan yang semakin meningkat, juga memicu pertumbuhan hotel di kota, membuat investor berlomba mendirikan hotel-hotel bertaraf kelas bintang merger, dengan manajemen kelas atas. Selain mempengaruhi tingginya permintaan dan penjualan bahan bangunan. Hal itu juga membuka lapangan kerja bagi arsitek, dan buruh bangunan. Dunia perhotelan tentu saja membuka lapangan pekerjaan yang luas mulai dari Ganeral Manager, Manager, Supervisor hingga karyawan. Hotel juga minimal memiliki 3 departemen, FO, HK dan FB yang membutuhkan SDM tidak sedikit. Efek ganda lainnya dibutuhkan tenaga kerja, yang memiliki skill pelayanan, berdirinya kursus-kursus dan sekolah-sekolah pariwisata. Dampaknya, meningkatkan retail sembako, usaha makan minum, usaha linen, laundry, snack, terapi pijat, sarana olahraga, dan lain-lain.
  3. Konsumsi : Masyarakat mulai memikirkan kebutuhan turis lainnya, yaitu makan minum, mulai dari usaha rumah makan, cafe, kedai, warung tegal hingga warung kopi jualan pisang goring, dan kelapa muda. Meski terlihat kecil, tapi hasilnya lumayan. Tentu ikan adalah menu andalan. Karena hasil laut Biduk-Biduk sangat berlimpah dikarenakan alamnya yang masih asri. Untuk kebutuhan lainnya adalah, kebutuhan akan sembako, mulailah berkembang took-toko sembako, penjual ikan dan sayur mayur. Hingga jajanan kuliner khas Biduk-Biduk. Pemandangan ini dapat ditemui di ujung Teluk Sulaiman dan di pintu masuk Labuan Cermin.
  4. Entertainment dan Meeting Spot : Begitu terkenalnya objek wisata labuan cermin, kini banyak perusahaan dari dalam dan luar Berau yang mengadakan ghatering, reuni bahkan meeting di Biduk-Biduk. Tentu bukan alasan rutenya yang jauh, namun yang jadi motivasi adalah alamnya yang indah, dan promosinya yang kuat. Efek ganda yang ditimbulkan tentu balik lagi mereka butuh transport, akomodasi, konsumsi, paket tour dan guide leader.
  5. Komunikasi dan tekhnologi : Setiap turis yang datang ke objek wisata tentu menginginkan lancarnya komunikasi, sehingga dapat mengirim informasi dan juga eksistensi berselancar di dunia maya. Dan kabar gembiranya, hastagh kegiatan wisata mereka yang di upload di dunia maya adalah promosi gratis untuk objek wisata kita. Peluang usahanya mulai dari perusahaan telekomunikasi, money changer, perbankan, ATM, warnet hingga penjual pulsa dan paket data.
  6. Cindera mata, buah tangan dan oleh-oleh : Turis selalu berharap ada yang bisa dibawa sebagai buah tangan ataupun kenang-kenangan dari sebuah objek wisata itu. Agar cerita mereka saat berwisata di Biduk-Biduk tidak dituduh hoax. Peluang usahanya ada pada kreatifitas, dan inovasi. Mulai dari kerajinan tangan dengan manfaatkan sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Hingga melibatkan pabrik garment sebagai mitra, contoh kaos, sarung pantai, kain khas setempat, dan masih banyak lagi. Serta usaha yang meningkatkan taraf ekonomi ibu-ibu rumah tangga, yaitu kemasan jajanan kuliner khas. Dalam hal ini, Biduk-Biduk memiliki SDA kelapa yang dari batang, buah, batok hingga ujung pelepah, bisa menghasilkan lebih dari 200 produk turunan dengan berbahan baku kelapa.
  7. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pengelola objek wisata dengan menetapkan retribusi tiket masuk objek wisata : Sebagian pendapatan dimanfaatkan kembali untuk mengembangkan fasilitas sarana dan prasarana. Itu dilakukan demi kenyamanan, dan keamanan pengunjung serta menambahkan atraksi wisata atau entertain menjadi kenangan yang indah, untuk pengunjung. Efek ganda yang ditimbulkan, adanya pembangunan fisik taman, toilet, tempat sampah, bale-bale, gapura, dan monumen. Adapun masyarakat bisa menangkap peluang usaha, mulai dari penyediaan sewa menyewa alat diving, sepeda, life jacket, hingga penerjemah, dan guide lokal.
  8. Sampah : Resiko dari kunjungan para wisatawan memang kerap menjadi permasalahan tersendiri, yaitu sampah yang semakin banyak. Tetapi permasalahan ini sebenarnya juga sebuah peluang usaha, jika masyarakat diberikan pendampingan bagaimana memilah, mengelola sampah dengan benar, dan memanfaatkannya kembali. Saat ini, ada beberapa program sampah yang menghasilkan, yaitu bank sampah, dan zero waste.
  9. Peternakan : Biduk-Biduk terkenal dengan fenomena sapi yang berkeliaran, dan menjadi masalah buat kebersihan kampung. Tentu saja itu disebabkan karena kotorannya bersekakan dimana saja. Buat masyarakat Biduk-Biduk mungkin itu menjadi permasalahan tambahan. Tapi bagi turis, itu merupakan bagian dari atraksi wisata. Alih-alih mereka terganggu, mereka justru mengabadikannya dengan kamera. Nah, kenapa tidak terpikirkan pengelolaan bersama. Sebuah peternakan bersama jika dikelola bersama juga akan berdampak pada terciptanya peluang usaha. Seperti kotorannya dibuat pupuk kompos, serta didirikannya koperasi peternakan sapi. Dimana, ini akan menjadi daya tarik wisata pendidikan, dan menjadi bagian dari atraksi wisata. Untuk hal sapi ini, kami siap menjembatani dengan pakar koperasi sapi. Dari peternakan ini saja, bisa memunculkan banyak usaha, usaha sapi qurban, susu fresh, bahan baku susu kemasan, rumah makan yang memproduksi daging sapi menjadi kuliner (bakso, tengkleng, dan coto Makassar). Bisa jadi, Biduk-Biduk menjadi pemasok daging sapi daerah sekitar.
  10. Camping Ground : Fenomena hari libur di Biduk-Biduk sungguh luar biasa. Pengunjung membludak, baik turis lokal maupun nusantara. Hingga terjadi banyak keluhan tidak tersedianya akomodasi. Seharusnya, ini menjadi peluang buat anak-anak pandu para pramuka, hari libur bukan buat untuk mendengkur, tapi harus bisa menciptakan peluang. Seperti menyewakan camping ground dengan akomodasi tenda, dan tentunya dibantu pemerintah setempat untuk menyediakan tempat sampah, toilet, dan kamar mandi mobile. Apalagi juga menyiapkan dapur umum dengan media api unggun. Ini bisa jadi paket tour yang keren, terjangkau, tetapi lebih mengasyikkan karena menyatu langsung dengan alam.

Semua peluang kerja dan usaha ini, tidak lepas dari dukungan pemerintah untuk terus, dan tidak bosan-bosannya meningkatkan kualitas SDM masyarakat setempat. Salah satunya, melalui pendidikan, dan pelatihan, serta penyuluhan dari Pokdarwis. Ekpektasi saya persis seperti apa yang telah dilakukan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, dengan programnya 1 desa 1 pendampingan (Seorang pakar yang mampu mendesign desa wisata, dengan menyesuaikan karakter desa tersebut).(Hendra Irawan)