Protes Izin Semen dan Sawit, Pegiat Pariwisata Buat Surat Terbuka Untuk Gubernur Kaltim

TANJUNG REDEB – Penolakan pabrik semen dan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, terus disuarakan banyak pihak. Kali ini, penolakan datang dari pendamping Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), sekaligus penyuluh sadar wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah.

Meskipun saat ini dirinya tengah berada di Yangon, Myanmar, namun ia tetap memantau perkembangan pariwisata di Kabupaten Berau, khususnya di Kecamatan Biduk-Biduk yang kini terancam dengan adanya izin pabrik semen dan perkebunan sawit. Untuk menunjukkan rasa protesnya terhadap kebijakan Pemprov Kaltim itu, dirinya pun membuat surat terbuka yang ia tujukan kepada Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak.

Dalam isi surat terbuka tersebut, dirinya menolak keras adanya izin perusahaan industri tersebut. Ia juga coba menyampaikan, jika keberadaan perusahaan pabrik semen dan perkebunan sawit bukanlah opsi atau upaya prioritas untuk mensejahterakan masyarakat Biduk-Biduk. Malah dengan adanya perusahaan industri tersebut, diyakininya akan berdampak pada kehancuran ekosistem dan lingkungan yang selama ini masih terjaga dengan baik.

Biduk-Biduk merupakan surganya pariwisata yang berada di wilayah selatan Berau, sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan. Jangan sampai, keindahan dan keunikan alam Biduk-Biduk tinggal kenangan, akibat kebijakan Pemprov Kaltim yang mengatasnamakan kesejahteraan masyarakat.

 

Berikut isi lengkap surat terbuka yang ditulis Samsiah yang ia tujukan kepada Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak :

Kepada yang terhormat, Bapak Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, semoga selalu dicurahkan limpahan Rahmat kepada bapak, dan seluruh masyarakat Provinsi Kaltim. Dengan hormat, perkenalkan nama saya Samsiah, SE Par, selama hampir 16 tahun ini saya berkecimpung di dunia Pariwisata. 7 tahun di Kota Samarinda, dan hampir 10 tahun di Kabupaten Berau. Beberapa tahun belakangan ini, saya bertugas sebagai pendampingan Pokdarwis di Kabupaten Berau, bagian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau.

BACA JUGA : Nah Loh, Belum Sosialisasi Pemprov Sudah Berikan Izin Perkebunan Sawit 17 Ribu Hektar Di Biduk-Biduk

Setahun yang lalu, kami Pokdarwis dan rekan-rekan dari komunitas pecinta pariwisata, telah mendengar bahwa pabrik semen akan dibuka dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Teluk Sumbang, yaitu gunung karst. Setahun yang lalu itu juga, kami berkoar-koar atas ketidaksetujuan, dan keberatan kami terhadap rencana itu. Tetapi apa daya, suara kami tenggelam karena riuhnya Pilkada.

Tetapi kami tahu, perusahaan mengambil kesempatan dengan memanfaatkan waktu Pilkada. Terlebih ketika itu, pemerintah tak terlalu konsentrasi, dan mungkin panik karena beberapa perusahaan tambang kolaps hingga tutup. Sehingga menimbulkan keluh kesah tentang lapangan pekerjaan, disertai lemahnya perekonomian saat itu. Atau mungkin saja, mengingat Biduk-Biduk menyimpan SDA yang bisa dimanfaatkan untuk lahan tambang semen, dan lahan sawit.

Tanpa memikirkan SDA lainnya yang begitu penting dan berkelanjutan, seperti lahan pariwisata yang sangat potensial. Padahal, dengan mengandalkan pariwisata saja, sudah dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat setempat, tanpa perlu merusak alamnya. Hal itu dikarenakan, sektor pariwisata memiliki multiplier effect.

BACA JUGA : Ketua DPRD : Sawit Ancam Objek Wisata Di Biduk-Biduk

Bapak Gubernur yang terhormat, mungkin bapak belum pernah merasakan perjalanan darat naik kendaraan roda 4, dari Tanjung Redeb menuju Biduk-Biduk. Jika dengan kecepatan tinggi akan memakan waktu 4-5 jam, kecepatan sedang sekitar 6 jam. Jika sopirnya santai, maka akan memakan waktu 7-8 jam. Bisa bapak bayangkan betapa penatnya, belum lagi tidak semua jalan berbadan mulus, terguncang-guncang, mendaki, menurun, dan berkelok-kelok. Jika yang memiliki stamina kuat, akan aman-aman saja. Tetapi bagi staminanya yang lemah, biasanya akan mengalami cuci perut 1-2 kali.

Tapi pak, kami selalu bersemangat ketika bertugas, atau jalan-jalan ke Biduk-Biduk. Sesampai di Biduk-Biduk, tiba-tiba rasa penat itu menghilang digantikan dengan bayangan sejuk, dan beningnya sebuah danau unik dua rasa yang tidak bercampur antara air asin dan air tawar. Yang mana tepi danaunya dinaungi oleh lebatnya pepohonan yang membentuk seperti kelambu. Foto-foto unik seakan melayang di atas air, dan selalu ada kegembiraan yang membahagiakan berenang-renang di labuan cermin.

BACA JUGA : Bupati : Kok, Saya Tidak Tahu Masalah Izin Sawit 17 Ribu Hektar Di Biduk-Biduk

Pak Gubernur yang saya banggakan, indahnya panorama Biduk-Biduk sudah menyambut sejak dari pintu gerbangnya. Pohon kelapa disepanjang perjalanan, deburan ombak pantai, kicauan burung, dan teduhnya alam Biduk-Biduk seakan mengajak jiwa kita bersenandung lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa”.

Dulu pak, masyarakat disini seperti desa tertinggal, karena jauh berada di ujung selatan Kabupaten Berau, dan jauh dari kota. Tetapi, sejak terkenalnya obyek-obyek wisata yang ada di Kecamatan Biduk-Biduk, seperti Labuan Cermin, keindahan bawah laut Pulau Kaniyungan Besar, dan Kaniyungan kecil, serta air terjun 7 bidadari di Teluk Sumbang, perekonomian masyarakat naik drastis.

Bahkan, saya termasuk orang beruntung, karena beberapa kali menemukan kawanan penyu sedang asyik bermain disekitar Teluk Sumbang, dan kemudian berenang dengan kecepatan tinggi karena terganggu oleh berisiknya mesin dompeng kami. Para punggawa Pokdarwis bahkan memberikan kesaksian, jika Whellshark (Hiu Tutul) juga sering terlihat disini.

Berkembangnya kegiatan pariwisata itu, tentu memberi efek bagus terhadap perkembangan perekonomian masyarakat setempat. Itu disebabkan dari multiplier effect tadi. Masyarakat jadi semakin sadar, bahwa ada banyak peluang yang bisa diusahakan dari kegiatan pariwisata. Contoh, baik turis lokal, nusantara, maupun mancanegara membutuhkan fasilitas dan efek ganda yang ditimbulkan.

BACA JUGA : Pelajar dan Mahasiswa Berau Serukan Penolakan Pabrik Semen dan Sawit di Biduk-Biduk

Saya hanya ingin bapak mempertimbangkan kembali keputusan yang bapak ambil, dengan memberikan izin kepada perusahaan yang bergerak di bidang semen itu. Sampai berapa lama perusahaan itu bisa dapat memberikan kompensasi terhadap masyarakat setempat? Nah, mari kita coba kaji kembali pak, dan ini kajian yang sangat sederhana :

  1. Peluang kerja yang dijanjikan untuk masyarakat. (Saya percaya tentu diprioritaskan. Tetapi dengan SDM yang ada, mungkin hanya bisa mengisi peluang staf atau karyawan bawahan, bukan level manejerial. Ya, paling minim juga security, dan bagian-bagian pekerja kerasnya)
  2. Catering (Apakah bisa masyarakat yang melayani tanpa sertifikat hygenis, dan standar perangkat operasional. Pasti ujung-ujungnya yang pegang balik lagi ke pengusaha catering besar, ya kan pak.
  3. Transportasi rental (Yang bisa diajak kerjasama kemudian pelan-pelan digantikan dengan kendaraan perusahaan yang memenuhi standar)
  4. Sembako (Perusahaan biasanya minta dilayani dengan bayar invoice yang 1 bulan, bahkan hingga 3 bulan kemarin. Dan tentunya bukan masyarakat biasa yang punya modal sebesar itu. Balik lagi ke para cukong sembako)
  5. Mess (Sementara mungkin memakai guest house, dan hotel yang ada. Hingga turis kembali kesulitan mencari akomodasi. Dan akhirnya lagi, perusahaan buat perumahan sendiri untuk mess karyawan)
  6. Uniform, laundry dan lain-lainnya (Tetap tidak menyentuh masyarakat level bawah. Karena harus melibatkan administrasi, dan modal yang cukup besar).

Bapak Gubernur yang kami cintai, dan semoga selalu diberikan kesehatan. Perbedaannya adalah, masuknya investor perusahaan semen, mungkin secara kasat mata terlihat pesat perkembangannya. Tetapi, lama kelamaan menimbulkan kehancuran alam, dan habitat disekitarnya. Saya tak bisa bayangkan pak, jangankan suara bising dari bom blasting, suara mesin speed saja sudah membuat kawanan penyu lari menjauh. Akankah lagi kawanan hiu tutul mampir ke perairan Biduk- Biduk? Dan bagaimana dengan penanganan limbah dari perusahaan tersebut? Bagaimna dengan alam bawah lautnya? Bagaimana pula dengan warna air laut 10 tahun kemudian? Akan kah seperti fenomena di Sungai Segah. Lantas, siapa-siapa saja yang akan diuntungkan, apakah segelintir orang yang mengaku masyarakat Biduk-Biduk.

BACA JUGA : Sawit dan Semen di Biduk-Biduk, Jatam dan Anggota DPRD Kaltim Serukan Perlawanan

Tetapi jika kita konsentrasi dengan sektor pariwisata, dengan memberikan pendidikan, dan pelatihan terus menerus tentang hebatnya multiplier effect dari kegiatan pariwisata. Apalagi sekarang kesadaran masyarakat yang mulai meningkat, tentang arti penting menjaga alam dan hidup serasi dengan alam. Maka alam akan kembali memberikan manfaat untuk masyarakat itu.

Pentingnya menjaga kelangsungan ekosistem untuk anak cucu nanti. Jangan sampai mereka hanya mendengar konon katanya pada zaman dahulu kala, Biduk-Biduk adalah tempat yang sangat indah. Jika kelangsungan pariwisata tetap terjaga, perekonomian masyarakat setempat meningkat, dan kita masih bisa menyaksikan keindahan Biduk-Biduk hingga 30 tahun ke depan.

BACA JUGA : Terbitkan Izin Lokasi Perkebunan Sawit Di Biduk-Biduk, DPRD Kaltim Sebut Kebijakan Ceroboh

Oh ya pak, kabar hebatnya lagi, Pokdarwis "Nyiur Melambai" dari Biduk-Biduk kembali mempertahankan piala bergilir Lomba Pokdarwis se-Kaltim dari 13 kabupaten/Kota. Artinya, sudah 2 tahun ini menjadi juara bertahan, dan maju ke tingkat nasional. Karena mereka memang layak jadi juara. Selain SDM-nya yang memang mumpuni, ditunjang juga dengan alam yang sangat indah. Kita semua mengakui, bahwa Kabupaten Berau itu bagaikan ceceran surga yang jatuh ke bumi, dan satu-satunya yang terunik di Kaltim, bahkan di Indonesia. Tak perlu, kita melebar ke Kepulauan Derawan, dan Merabu yang kini ditetapkan sebagai paru-paru dunia makin diakui.

Tetapi perlu sedikit kita colek Merabu pak, Merabu juga memiliki kesamaan dengan Biduk-Biduk. Sama-sama memiliki gunung karst. Dan saya tidak mau berpanjang lebar tentang arti pentingnya gunung karst.

BACA JUGA : Rusianto : Aneh, Izin Sawit dan Semen Cepat Keluar, Izin Galian C Tak Direspon Pemprov

Mungkin bapak lelah membaca surat saya. Tapi pak, teman-teman kami disana di Biduk-Biduk, para punggawa pecinta pariwisata, selalu siap melestarikan dan menjaga alamnya. Mereka lebih lelah setelah sekian lama berjuang. Kini semangat mereka dipatahkan, dengan sebuah keputusan yang sangat bertentangan dengan Sapta Pesona yang selama ini mereka pegang, dan patuhi. Seandainya, Biduk-Biduk bukan merupakan kawasan wisata yang cukup unik, mungkin kami ikhlas saja pak. Tapi kami dan Biduk-Biduk merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Walaupun kini saya stay di Yangon, Myanmar, tetapi hati saya tertinggal di Biduk-Biduk.

Terimakasih bapak, yang mungkin sudi meluangkan waktunya untuk mendengarkan surat yang saya tulis dengan hati, dan tanpa referensi. Dan terimakasih buat siapapun yang telah membacakannya buat Bapak Gubernur. Salam Sapta Pesona. Wonderful Indonesia. I love Berau dan Biduk-Biduk yang menakjubkan.(Hendra Irawan)