PT Berau Coal Punya 195 Ekor Sapi Di Peternakan Terpadu Eks Pasca Tambang

 

SAMBALIUNG – Dimulai sejak sejak tahun 2012 lalu, PT Berau Coal (BC) menjalankan program pilot project peternakan sapi memanfaatkan lahan eks pasca tambang site Binungan.

Berawal dari 91 ekor sapi betina dan 5 ekor sapi jantan. Peternakan yang mengadopsi konsep peternakan terpadu tersebut dinilai terbilang sukses. Sebab, populasinya kini bertambah menjadi 141 ekor sapi betina, dan 54 ekor sapi jantan.

Peternakan tersebut saat ini telah dihuni 3 jenis sapi potong. Seperti jenis sapi Brahman Cross sebanyak 35 ekor, sapi Bali 140 ekor, dan sapi Donggala sebanyak 20 ekor. Dalam peternakan tersebut dijalankan melalui dua sistem, yakni penggembalaan (semi intensive) yang dipusatkan di lahan 5 hektar, dan kereman (intensive) di lahan 2 hektar.

Mine Closure Manager, Doddy Herika W menjelaskan, departemennya mengelola peternakan terpadu secara langsung, mulai dari perencanaan dan uji coba, pengembangan populasi hingga produksi livestock (ternak).

“Ke depan harapannya, peternakan ini mampu menuju kemandirian dan keberlanjutan di saat pasca tambang,” ujarnya kepada beraunews.com, Rabu (12/10/2016).

 

 Selain pemilihan sistem peternakan, pengelolaan limbah juga dilakukan guna memperoleh manfaat dalam mendukung keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang. Seperti pengelolaan kotoran sapi yang dijadikan kompos dan biogas.

“Ini ke depan yang akan terus kita kembangkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Farming Project, Adji Pitojo mengatakan, upaya tersebut dilakukan sebagai pintu pembuka untuk memulai pelaksanaan sistem pertanian terpadu. Dimana, sistem tersebut disiapkan sebagai salah satu model pemanfaatan lahan pasca tambang di Binungan. Keluaran dari sapi inilah menurut dia, yang menjadikan kegiatan ternak sapi di Binungan sebagai peternakan terpadu dengan target zero waste (tidak menghasilkan sampah).

“Kotoran sapi, sejak tahun lalu telah dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan peternakan dan reklamasi lahan,” ujarnya.

BACA JUGA : Kaltim Pilot Project Pengembangan Sapi Tambang

Dijelaskannya, dalam sebulan, produksi kompos dari kotoran sapi mencapai 10 hingga 15 ton yang dimanfaatkan sebagai material pendukung pertumbuhan tanaman di lahan pasca tambang yang akan direvegetasi. Selain itu, biogas yang dihasilkan juga dijadikan energi guna mensuplai listrik untuk penerangan di peternakan sendiri.

“Sedangkan urin yang diproduksi sekitar 9.000 liter per bulan akan dijadikan bio urine. Namun, pemanfaatannya masih dalam tahap kajian kandungan haranya menuju pemanfaatan yang secara tepat,” bebernya.

Terkait peternakan terpadu sapi Binungan PT BC sendiri diungkapkannya, menggunakan pola pembibitan sapi potong. Dimana nantinya kawasan tersebut diharapkan menjadi sumber bibit di daerah pasca tambang dan kampung-kampung lingkar tambang (Binungan Breeding Centre). Bahkan, PT BC juga melibatkan kelompok-kelompok masyarakat peternak yang telah dibekali keterampilan beternak dalam program Community Development PT BC.

“Dengan begitu, setelah kegiatan tambang berakhir masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan melalui sektor peternakan, pertanian dan perkebunan,” tandasnya.(Hendra Irawan)