Waspada!!! Sudah 2 Kasus Penyakit Kaki Gajah Serang Warga Berau

 

TANJUNG REDEB – Memasuki tahun kedua Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis (penyakit kaki gajah) di Kabupaten Berau yang jatuh pada bulan Oktober 2017 lalu, presentase hasil cakupan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun pertama, yakni dari 87 persen menjadi 90 persen.

Capaian pembagian POPM Filariasis tahun kedua ini memang menunjukkan keefektifan pencegahan penyakit kaki gajah di Kabupaten Berau. Namun di sisi lain, tak dapat disangkal masih ditemui beberapa kendala. Bahkan meski telah dibagi secara door to door (pintu ke pintu) oleh RT atau kader di lingkungan tempat tinggal, masih ada saja masyarakat yang tidak meminum obat tersebut dengan berbagai macam alasan.

Hera, salah satu warga Tanjung Redeb mengaku tidak meminum obat karena takut bila ia mengalami pusing atau mual karena efek samping obat. Sebab, ia masih memilik dua anak balita yang membutuhkan perhatian penuh.

“Tidak saya minum, nanti kalau pas pusing atau mual takutnya tidak ada yang jagain anak-anak, lebih bahaya lagi,” ungkapnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Emi yang pernah memiliki riwayat sakit yang tidak disebutkan olehnya.

“Sejak saya sakit waktu itu saya tidak minum obat kimia apapun. Jadi ini tidak berani juga saya minum. Ada di meja saja itu obatnya, tidak diminum sejak dikasih petugas. Anak-anak juga tidak minum,” tuturnya.

 

Menanggapi kendala tersebut, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau Garna Sudarsono mengakui berbagai macam kendala tersebut sebagai penyebab tak kunjung tercapainya angka 100 persen penyebaran obat kaki gajah tersebut.

“Memang masih jadi kendala juga bagi kita, termasuk kita belum bisa 100 persen, itu ya karena tidak diminum salah satunya. Kemudian RT atau kader yang sudah door to door itu tidak mesti bertemu dengan orang yang akan diberi. Nah itu yang menjadi masalah. Ada juga di beberapa daerah itu kadang orangnya berladang, tidak ada di rumah. Jadi tidak bisa diberi. Itu juga kendala,” bebernya kepada beraunews.com, Selasa (13/02/2018).

BACA JUGA : POMP Filariasis Tahun Pertama Kabupaten Berau Capai Target Nasional

Sementara Kepala Dinkes Berau, Totoh Hermanto mengatakan, pemberian obat filariasis seharusnya memang diawasi oleh petugas untuk memastikan apakah obat tersebut benar-benar diminum atau tidak, selain juga memberikan informasi terkait efek sampingnya. Tetapi mengingat keefektifan dan keterbatasan waktu, sehingga pengawasan untuk meminum obat secara langsung oleh kader-kader atau RT, masih kurang.

“Kita tidak bisa memaksakan, yang penting kita sudah melakukan upaya pencegahan dan sudah memberikan informasi, baik terkait bahaya penyakit maupun efek dari obat, yang itu aslinya lebih besar manfaatnya,” ujarnya.

 

Kendala-kendala yang ditemui di lapangan ini menjadi catatan penting dan evaluasi untuk Belkaga (Bulan Eliminasi Kaki Gajah) di tahun ketiganya, tahun 2018. Oleh karenanya, Dinkes Berau berupaya memaksimalkan sosialisasi agar pemberian obat filariasis dapat meningkat dan optimal hingga mencapai 100 persen. Selain oleh kader-kader atau RT, petugas puskesmas, juga tentunya membutuhkan bantuan media untuk terus menyebarkan informasi terkait pentingnya mengkonsumsi obat pencegah filariasis.

Perlu diketahui, di Kabupaten Berau setidaknya ditemukan dua kasus penderita penyakit kaki gajah, yakni di Kampung Tasuk, Kecamatan Gunung Tabur dan di Kampung Tepian Buah, Kecamatan Segah.(hnf/bnc)