Si Manis Pereda Stres

Stres mungkin bukan hal asing lagi bagi kita, kata “stres” didefiniskan berbeda-beda oleh tiap individu. Pada umumnya, stres merupakan bentuk ketegangan fisik, psikis, emosional maupun mental seseorang karena adanya tekanan, desakan atau tuntutan yang tidak dapat teratasi. Secara psikologis, stres berarti hubungan antara individu dengan lingkungannya yang dinilai sebagai sesuatu yang membebani dan melampaui batas kemampuan seseorang, bahkan dapat mengganggu kesejahteraan dan aktivitasnya, biasanya stres menimbulkan ketakutan dan kecemasan.

Sumber stres (stressor) merupakan hal-hal yang menimbulkan stres, misalnya konflik peran seorang wanita yang bekerja di kantor sekaligus menjadi ibu rumah tangga, rasa bersalah seorang ayah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya, seorang kakak yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan harus memenuhi kebutuhan adik-adiknya dan tekanan orang tua terhadap anaknya yang mengalami penurunan kognitif di sekolah. Hal tersebut dapat terjadi akibat ketidakmampuan diri dalam mengatasi suatu masalah atau adanya konflik peran yang dialami oleh seseorang. Stres merupakan bentuk subjektif, tergantung siapa dan bagaimana seseorang menghadapi stressor yang muncul.

Dilihat dari sumbernya, stres dapat dialami oleh semua kalangan mulai dari dewasa, remaja sampai anak-anak. Di samping itu, terdapat beberapa tipe kepribadian yang rentan terkena stres, yaitu seseorang yang ambisius, agresif, mudah marah dan tersinggung, percaya diri berlebihan, tergesa-gesa dalam bertindak, kaku dan introvert.

Stres menghasilkan respon yang berbeda-beda tiap individunya. Respon tersebut dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui tingkat stres yang dialami seseorang, misalnya meningkatnya tekanan darah, denyut nadi, detak jantung, sesak napas, penurunan konsentrasi, ketakutan dan kecemasan berlebihan, mudah marah, mudah tersinggung, insomnia, sakit kepala, dan konstipasi atau sembelit.

Mengingat stress merupakan sesuatu yang mengganggu, biasanya individu yang mengalami stres akan melakukan beberapa cara untuk menghilangkan stres seperti bermain games, liburan ke suatu tempat yang menyenangkan, berbelanja di mall bahkan beberapa orang malah menghindari stres yang muncul. Cara lainnya yang dapat dilakukan, yaitu mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis-manis, misalnya es krim dan cokelat. Namun, apabila dikonsumsi berlebihan juga tidak baik bagi tubuh, bahkan dapat menyebabkan obesitas dan meningkatnya kadar gula darah dengan cepat. Terdapat makanan lain yang sama manisnya, namun lebih aman jika dikonsumsi, yaitu madu.

Madu merupakan cairan kental dan manis yang dihasilkan oleh lebah dari nektar bunga. Madu terdiri dari berbagai macam enzim dan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh, misalnya untuk kecantikan, antiseptik, anti oksidan, dan anti radang. Madu mengandung sumber karbohidrat alami (fruktosa) yang lambat diserap oleh tubuh, sehingga mampu menjaga kadar gula darah secara konstan. Karena banyaknya kandungan alami yang terkandung di dalamnya, bukan berarti kita dapat mengonsumsi madu secara sembarangan. Pada kondisi tubuh normal, kandungan fruktosa yang berlebihan dapat menyebabkan kembung dan diare atau masalah pada saluran pencernaan. Jadi, mengonsumsi madu alami tetap harus dengan kadar yang sewajarnya.

Bagaimana madu dapat meredakan stres? Rasa manis yang dihasilkan dari madu mampu memberikan rasa nyaman dan tenang ketika seseorang dalam kondisi stres. Selain itu, madu juga mengandung vitamin B kompleks yang salah satunya dapat menurunkan tingkat stres, yaitu vitamin B5 atau asam pantotenat. Vitamin B5 bekerja dengan cara meningkatkan produksi serotonin atau hormone pengatur mood yang selanjutnya dapat meredakan stres seseorang.

Selain itu, madu mengandung unsur karbohidrat yang juga dapat meningkatkan kadar hormon serotonin. Hal ini terjadi karena karbohidrat memicu tubuh untuk melepaskan lebih banyak insulin. Insulin yang dilepaskan akan menyebabkan peningkatan penyerapan asam amino dan meninggalkan triptofan (asam amino yang menghasilkan serotonin dalam tubuh) di dalam darah. Akibatnya, triptofan yang mengalir dalam pembuluh darah akan diserap ke dalam otak. Inilah sebabnya makanan yang kaya karbohidrat sering disebut sebagai comfort foods atau makanan yang menenangkan bagi tubuh.(bnc)

* Dwi Rahayu (Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang)