Air Sungai yang Diduga Tercemar Limbah Industri, Sebabkan Diare Hingga Dermatitis

 

TELUK BAYUR – Masyarakat yang hidup di sekitaran bantaran sungai, pola hidupnya otomatis akan selalu bergantung kepada sungai. Aktivitas seperti mencuci, mandi, maupun konsumsi air minumnya, sebagian besar masih menggunakan air sungai. Tetapi apa jadinya, jika sungai yang sebagian besar menjadi tempat ketergantungan hidup itu, kini diduga tercemar oleh limbah industri?

“Air semacam itu rawan, dan dapat menyebabkan penyakit kulit seperti Dermatitis (radang kulit) (disebabkan oleh bakteri, jamur, alergi, dan sebagainya yang disertai rasa gatal-red) karena dari faktor bahan kimia itu,” ucap Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Berau, Jaka, saat ditemui beraunews.com di ruang kerjanya, Jumat (28/04/2017).

Terlebih lagi jika warganya mengkonsumsi air sungai yang tercemar itu dalam jumlah yang begitu besar, sungguh dapat beresiko mengundang berbagai jenis penyakit yang faktor penyebab utamanya tidak lain dan tidak bukan, yaitu air sungai yang tercemar tadi.

“Pengolahan air dari sungai pun untuk membunuh bakteri idealnya membutuhkan waktu 10 menit sesudah mendidih, baru dapat dikonsumsi. Tetapi lebih baiknya lagi jika memang mengkonsumsi air yang telah disubsidikan oleh PDAM. Sebab, air sungai jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang dapat merusak ginjal, di sisi lain juga dapat menyebabkan diare karena jumlah bakterinya sangat padat,” sambungnya.

Tetapi, tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Semua kembali kepada bagaimana caranya dapat mengintrospeksi diri masing-masing saja. Karena dimanapun masyarakat bertempat tinggal, mereka juga perlu menjaga kesehatan.

“Harusnya memang menjadi perhatian semua sektor, jadi bukan hanya Dinas Kesehatan saja,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia