Pengidap HIV AIDS di Berau Bertambah, Dua Balita Meninggal Dunia

 

TANJUNG REDEB – Penegakan Perda Berau Nomor 2/2007 tentang Pelarangan Pelacuran, dirasa masih kurang efektif tanpa adanya pengawasan yang lebih maksimal dari instasi berwenang.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Totoh Hermanto, yang mengatakan saat ini tingkat pengidap penyakit mematikan HIV AIDS semakin mengkhawatirkan. Hal itu diduga akibat masih ada beberapa lokalisasi ataupun tempat percobaan prostitusi yang beroperasi di sebagian wilayah Berau.

“Berau punya Perda larangan lokalisasi, tapi kenyataannya masih banyak yang beroperasi secara sembunyi-sembunyi. Yang saya ketahui misalnya di Kecamatan Batu Putih, masih beroperasi sampai saat ini. Juga seperti Tempat Hiburan Malam (THM) itu juga termasuk percobaan prostitusi, dari sana juga terkadang tak jarang muncul penyakit ini,” katanya kepada beraunews.com, Senin (03/04/2017).

Apalagi, Pekerja Seks Komersial (PSK) yang melakukan praktik prostitusi tersebut diduga banyak yang berasal dari eks lokalisasi Dolly, Surabaya, yang resmi ditutup pada 2014 lalu, oleh Pemkot Surabaya.

“Nah, kebanyakan yang kemudian datang dan menjadi PSK di Berau adalah eks PSK Dolly. Ini artinya, banyak PSK pendatang yang kita tidak tahu apakah secara medis sehat alias bebas dari penyakit menular ini atau tidak. Bisa jadi mereka yang datang ini justru membawa dan menjadi faktor meningkatnya pengidap HIV AIDS,” ucapnya.

Meski telah menutup sebagian besar lokalisasi seperti di Lamin dan Tembudan, namun pergerakan aksi prostitusi tersebut tidak serta merta hilang dan menjadi jaminan keamanan masyarakat Berau terhindar dari HIV AIDS. Sebab masih banyak THM yang juga menjadi tempat praktik prostitusi. Sehingga, untuk mengantisipasi semakin meningkatnya kasus HIV AIDS di kalangan masyarakat, ia berharap kepada seluruh pihak yang memiliki kewenangan atas penegakan Perda, dapat menegakkan Perda tersebut dengan lebih maksimal.

“Kalau memang dilarang ya dilarang. Karena tidak ada istilahnya prostitusi itu ada yang resmi dan ada yang tidak. Semuanya memang tidak boleh. Baik secara agama maupun secara hukum kita di Indonesia. Semakin ketat penegakan Perdanya, maka saya yakin akan semakin minim penderita penyakit mematikan ini,” jelasnya.

Tak dipungkirinya, saat ini ada beberapa pasien HIV AIDS yang sedang menjalani perawatan di RSUD Abdul Rivai. Bahkan, dua orang balita juga menjadi korban keganasan penyakit tersebut hingga merenggut nyawa keduanya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia