Pelaku Sodomi Belum Tentu Pedofil

 

TANJUNG REDEB – Tindak kejahatan sodomi yang terjadi beberapa waktu lalu, menjadi pelajaran bagi para orang tua. Pasalnya, pelaku sodomi bisa jadi orang yang sudah dikenal oleh si anak, atau kalaupun asing, pelaku tidak menunjukkan gelagat bahwa ia memiliki penyimpangan seksual.

“Kalau seperti kasus kemarin, sepintas bisa dikategorikan sebagai pedofil (gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun-red), tetapi si pelaku tentu tidak menunjukkan ciri sebagai pemilik penyimpangan seksual dan memiliki ketertarikan berhubungan seks dengan anak-anak, ini yang berbahaya,” terang psikolog yang bertugas di P2TP2A Berau, Etna Anjani Trunoyudho, M.Psi, kepada beraunews.com, Senin (06/03/2017).

Dijelaskannya, pelaku sodomi belum tentu seorang pedofil. Karena pada umumnya, sasaran objeknya adalah anak di bawah umur, dimana pelaku biasanya punya perasaan inferior (sebuah perasaan tidak lengkap dan tidak sempurna-red) berhubungan dengan lawan jenis, sehingga mengalihkan ketertarikan ke anak-anak.

Penyimpangan seksual dimana ada dorongan seksual yang kuat untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak di bawah umur. Pelaku bisa perempuan atau laki-laki, dan korban juga bisa anak perempuan maupun anak laki-laki.

“Beberapa pelaku bisa juga karena pernah menjadi korban pelecehan seksual di masa lalunya, tetapi tidak semuanya, tergantung pemaknaan korban terhadap peristiwa pelecehan seksual tersebut,” ungkapnya.

Kebanyakan motif pelaku bisa dengan mendekati korban atau melalui orang lain yang dekat dengan korban,memberikan iming (uang, mainan, makanan), dan disertai ancaman apabila anak membocorkan rahasia ke orang lain.

Hal ini sebenarnya dapat diminimalisir. Yang perlu ditekankan adalah pencegahan karena pelaku sodomi atau pedofil ini seperti orang pada umumnya. Perlu dikenalkan edukasi pada anak tentang cara menjaga diri baik dari sisi kesehatan dan keselamatan.

“Ajarkan cara melindungi diri sendiri ke anak seperti memperkenalkan 4 area pribadi tubuh yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun (mulut, dada, kemaluan, dan pantat). Pakai baju yang menutupi area pribadi, jangan pipis di sembarang tempat (harus di toilet). Yang paling penting, ajarkan anak mengatakan tidak jika ada yang memaksanya membuka baju, menyentuh area pribadi, memaksa ke tempat sepi, ada orang tidak dikenal mengajak atau memberi hadiah, memaksanya melihat bagian pribadi tubuhnya, dan jika ada yang menyakitinya segera minta bantuan (teriak minta tolong), cerita pada ortu atau guru, dan menghubungi polisi 110,” tegasnya.(bnc)