Gizi Buruk Masih Ditemukan, Separah Inikah Berau?

 

TANJUNG REDEB – Gizi buruk di Indonesia bukan lagi menjadi masalah sepele. Tak hanya di perkotaan, bahkan di kabupaten/kota pun sudah banyak kasus seperti ini, tak terkecuali di Berau.

Menanggapi hal ini, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau, Fika Yuliana mengungkapkan jika di Berau sendiri memang sudah ada beberapa kasus terkait gizi buruk ini, dan hingga saat ini pun masih sering terjadi.

BACA JUGA : Bupati Berau : Dinkes Harus Alokasikan Anggaran Penanganan Gizi Buruk

Permasalahan gizi buruk ini, menurutnya, sebenarnya bisa diminimalisir. Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan pemberian makan kepada si anak sesuai 4 sehat 5 sempurna, atau setidaknya makanan mengandung gizi. Atau bisa juga dimulai dengan hal sederhana, yaitu pemberian Air Susu Ibu (ASI).

“Sebenarnya, kalau sedari bayi si ibu memberikan ASI, hal seperti ini (gizi buruk-red), bisa dicegah, karena ASI adalah susu terbaik bagi si anak, dan didalamnya terkandung semua yang dibutuhkan oleh anak, baik itu imunitas (daya tahan tubuh-red), maupun yang lainnya, dan kenyataannya, anak yang mendapatkan ASI memang jarang sakit,” ungkapnya kepada beraunews.com, Senin (30/01/2017).

BACA JUGA : Ketua DPRD : Jika Ditemukan Anak Gizi Buruk Segera Laporkan

Selain memberikan imbauan, P2TP2A juga akan melakukan sosialisasi terkait pentingnya ASI ini, ke kampung-kampung yang notabene selama ini memang kurang pemahaman tentang hal ini.

“Nantinya saya ingin ada sosialisasi pentingnya ASI, khususnya ke kampung-kampung dimana sering muncul kasus gizi buruk, dan ini sesuai juga dengan program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Berau,” lanjutnya.

BACA JUGA : Dinkes Berupaya Basmi Gizi Buruk

Selain P2TP2A dan PKK, Fika (sapaan akrabnya-red), juga akan menggandeng Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), dalam pelaksanaan sosialisasi nantinya.

“Mudahan bisa terlaksana sesegera mungkin, agar tidak ada lagi kasus gizi buruk lainnya di Berau ini, dan kita juga akan semaksimal mungkin memberikan informasi dan pemahaman kepada ibu-ibu khususnya di kampung, agar bisa memberikan ASI eksklusif selama miniman 6 bulan, dan sampai si anak berumur 2 tahun kalau bisa,” tegasnya.

BACA JUGA : Pemerintah Tidak Serius Tangani Gizi Buruk

Sedangkan untuk beberapa kasus gizi buruk yang sudah muncul di Berau, dikatakan Fika, terkadang itu juga merupakan penyakit bawaan, entah dari kakek neneknya, atau orang tuanya sendiri.

“Sempat saya beberapa kali menemukan hal seperti ini di lapangan atau di rumah sakit. Ada beberapa yang bilang kalau ini penyakit bawaan sejak lahir, tapi bahasa medisnya dari RS ya itu, gizi buruk. Kalaupun itu gizi buruk, separah inikah di Berau? Sedangkan Berau sendiri adalahKabupaten yang kaya,” pungkasnya.(bnc)