Bakteri pada Air Minum, Penyebab Keracunan Karyawan PT SIS

 

TANJUNG REDEB – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau sudah mengantongi hasil uji laboratorium makanan dan air mineral yang menyebabkan 20 karyawan PT Sapta Indra Sejati (SIS) beberapa waktu lalu, mengalami keracunan massal. Hasilnya, semua air mineral yang dikonsumsi karyawan itu ternyata terkontaminasi bakteri.

Kepala Dinkes Berau, Totoh Hermanto melalui Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Andarias Baso mengatakan, bakteri yang terdapat pada air mineral tersebut berupa E-Coli (Escherichia coli) dan koliform (Coliform).

Bakteri yang ditemukan dalam air mineral tersebut, memang dapat menyebabkan terjadinya gejala pusing, mual, muntah, dan keringat dingin. Hal tersebut terbukti banyak karyawan yang keracunan mengalami beberapa gejala tersebut.

“Ternyata airnya itu yang mengandung bakteri E-Coli dengan bakteri Coliform. Itu bakteri Coliformnya malah ada yang sampai 240 per 100 ml, bakterinya ada yang sampai 8 per 100 ml untuk E-Coli,” katanya saat dihubungi beraunews.com melalui telepon selulur, Jumat (16/12/2016).

BACA JUGA : 20 Karyawan PT SIS Diduga Keracunan Usai Makan Malam

Sementara, persyaratan air mineral dapat dikonsumsi, lanjut Andarias, yakni tidak boleh mengandung bakteri apapun, termasuk kedua bakteri yang ditemukan terkandung dalam air produksi pengelolaan perusahaan tersebut. Kandungan bakteri E-Coli dan Coliform pada air mineral seharunya nol per 100 mililiter (ml).

Pengujian sampel makanan dan air mineral yang dilakukan di Laboratorium Dinkes Berau dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Samarinda. Untuk sampel air mineral yang diuji diambil dari beberapa titik, mulai dari air baku yang akan masuk di profil pengelolaan hingga air mineral yang keluar dari profil pasca pengelolaan. Termasuk, yang dikonsumsi para karyawan tersebut.

“Dugaan sementara kita, dari air mineral itu penyebabnya,” lanjutnya.

Peristiwa ini merupakan pembelajaran bagi perusahaan agar lebih teliti. Namun, berdasarkan informasi yang ada, tambah Andarias, pengelolaan air mineral yang ada dilakukan secara mandiri oleh pihak perusahaan sendiri.

Untuk itu, pihaknya akan merekomendasikan pihak perusahaan agar sementara ini tidak menggunakan air mineral hasil pengelolaan secara mandiri yang dilakukan pihak perusahaan sendiri. Sistem pengelolaan air mineral harus higiene sanitasi.

“Sistem penyaringan dibenahi dan diperbaiki, dari distribusinya sampai ke kantin yang menjadi tempat pengisian air minum karyawan. Habis itu diperiksa, kalau sudah tidak ada (bakteri) baru boleh kasih ke karyawan untuk dikonsumsi,” tambahnya.

Terkait penyelidikan oleh pihak Kepolisian, jelas Andarias, pihaknya telah menyerahkan hasil uji laboratorium yang telah diterima pihaknya pada Rabu (14/12/2016) kemarin. Melalui, salah satu kepala seksi pada bidang P2PL Dinkes Berau.

“Hasilnya uji laboratorium sudah diminta oleh Kepolisian, waktu hari Rabu saya suruh antar pegawai Dinkes. Pak Halil sudah serahkan karena ada polisi minta," pungkasnya.(Andi Sawega)