Angka PMS 2016 Menurun

 

TANJUNG REDEB – Pasca penutupan hampir seluruh lokalisasi prostitusi yang ada di Kabupaten Berau, prostitusi online maupun yang berkedok panti pijat dan sebagainya malah terbilang kian marak.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Totoh Hermanto melalui Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Andarias Baso mengatakan, pihaknya pun sulit untuk melakukan pemantau dan pengawasan terkait prostitusi online tersebut.

Jangankan untuk prostitusi online, para PSK yang biasa menjajakan dirinya di berbagai sudut jalan di Kecamatan Tanjung Redeb dan sekitarnya saja sangat sulit untuk dilakukan pemantauan dan pengawasan. Belum lagi untuk melakukan pemeriksaan Penyakit Menular Seksual (PMS) terhadap PSK tersebut.

“Kalau yang prostitusi online, nah itu yang kita repot dan kita tidak bisa pantau karena di luar pengawasan. Jangankan yang prostitusi online, yang dipinggir-pinggir jalan saja katanya ada juga, itu susah kita pantau,” katanya kepada beraunews.com, Jumat (16/12/2016).

Pihaknya baru dapat melakukan pemeriksaan PMS, jika aparat keamanan seperti Kepolisian dan Satpol PP yang menemukan PSK tersebut juga memanggil pihaknya. Pihaknya baru dapat melakukan pemantauan dan pengawasan langsung, jika pelaku prostitusi online itu diketahui jelas tempat tinggalnya atau tempat mereka menjajakan dirinya. Pihaknya pun hanya sebatas melakukan pemeriksaan PMS.

“Kalau jelas tempatnya, jelas kami datangi. Tapi, kami kan sebatas memeriksa, urusan dia resmi atau tidak yah urusan Satpol PP dan yang berwenang,” bebernya.

Terkait adanya prostitusi online itu, lanjut Andarias, pihaknya tidak tahu-menahu. Namun, berdasarkan informasi yang belum diketahui sumbernya membenarkan akan adanya prostitusi online tersebut. Untuk panti pijat sendiri, pihaknya telah melakukan pengawasan dan pemantuan serta pemeriksaan PMS terhadap para pekerjanya. Dari pemeriksaan itu, diketahui jika salah satu pekerja panti pijat itu ada yang positif terjangkit penyakit HIV/AIDS.

“Tidak ada yang kita tahu, tapi dengar-dengar ada. Tapi, kalau panti pijat betul, memang ada beberapa panti pijat. Dan, sudah banyak yang kita periksa, ada juga yang positif HIV,” lanjutnya.

Untuk membedakan panti pijat yang benar maupun prostitusi yang berkedok panti pijat, tambah Andarias, pihaknya sangat sulit untuk membedakannya. Untuk itu, pihaknya akan memasuki dan melakukan pemeriksaan kepada seluruh tempat pijat yang diketahui pihaknya merupakan panti pijat.

“Saya suruh masuki semua karena kita susah membedakan, yang mana plus-plus atau negatif dan mana yang betul panti pijat. Jadi, anak-anak disuruh masuki saja semua, kalau kalian tahu panti pijat masuki saja,” tambahnya.

Berdasarkan data Dinkes Berau, jelas Andarias, jumlah kasus PMS yang tercatat pada tahun 2015 lalu mencapai 58 kasus. Sementara, hingga akhir November 2016 ini, baru tercatat 36 kasus PMS.

Hal ini tentu menjadi salah satu indikator jika kasus PMS di Kabupaten Berau mengalami penurunan. Guna terus menurunkan angka kasus PMS itu, pihaknya mengharapkan adanya kerjasama yang baik dari pihak keamanan, baik Kepolisian maupun Satpol PP.

“Memang di Lamin ditutup, di Batu Putih ditutup. Cuma, ya itu muncul ditempat-tempat lain, itu yang repot. Bahkan, ada dengar informasi, ada juga bikin di daerah jalan ke Kelay, kayak warung-warung begitu. Itu baru laporan yang saya dengarkan, cuma susah menindaklanjuti. Tapi, kami bisa saja datang memeriksa, cuma kadang takutnya mereka tersinggung,” pungkasnya.(Andi Sawega)