POMP Filariasis Tahun Pertama Kabupaten Berau Capai Target Nasional

 

TANJUNG REDEB – Hasil cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis di Kabupaten Berau telah melampaui target nasional dengan 85,39 persen. Capaian target nasional untuk POPM filariasis 85 persen dari jumlah penduduk sasaran.

“Jadi berdasarkan hasil cakupan POPM-nya, itu 85 persen dari jumlah penduduk sasaran. Artinya, kita mendekati target nasional. Secara jumlah penduduk, kita melebihi daripada 65 persen,” ungkap Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Berau, Andarias Baso melalui Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Ramadhan kepada beraunews.com, baru-baru ini.

Sasaran POPM filariasis, lanjut Ramadhan, untuk Kabupaten Berau sebanyak 208.379 orang. Sementara realisasi mencapai 177.493 orang, yang terbagi 3 kategori umur, yakni umur 2-5 tahun mencapai 15.059 orang, umur 6-14 tahun mencapai 33.476 orang dan umur 14-70 tahun mencapai 128.958 orang.

“Berdasarkan data rekapitulasi kegiatan pengobatan massal filariasis Kabupaten Berau tahun 2016, dimana umur 2-5 tahun pencapaiannya itu 86 persen, 6-14 tahun 83 persen, dan lebih dari 14-70 tahun itu 86 persen,” lanjutnya.

Pemberian obat filariasis itu, tambah Ramadhan, tidak akan berhenti walaupun telah mencapai target. Pemberian obat filariasis harus berturut-turut untuk membunuh cacing dewasa. Bila pemberikan obat tiap tahun, maka dapat membunuh cacing yang belum tumbuh dewasa.

“Perlu diingat juga dan diinformasikan ke masyarakat karena ini sifatnya massal, pembagian (obat) tentunya tidak semua masyarakat mungkin yang menjadi sasaran dapat bagian, sehingga kalau ada yang merasa belum menerima obat, bisa minta ke dinas ataupun ke Puskesmas terdekat,” tambahnya.

Untuk itu, kata Ramadhan, masyarakat yang belum menerima obat filariasis dapat meminta secara kelompok maupun individu ke Dinas Kesehatan maupun Puskesmas terdekat.

Dari POMP yang dilakukan, Kabupaten Berau mencatatkan hasil cakupan yang mencapai 99 persen dari 20 Puskesmas yang ada. Ramadhan menilai, meski sudah ada yang mencapai 99 persen, bukan berarti tidak lagi memberikan obat kepada masyarakat.

“Jadi tanpa ada pungutan biaya sedikit pun, baik secara kelompok maupun individual. Jadi misalnya ada kampung yang merasa belum dapat seluruhnya, bisa minta secara kolektif. Jadi mewakili bisa ke Dinas Kesehatan, bisa ke Puskesmas karena kita di Puskesmas tetap menyiapkan obat ini secara buffer stock (stok pengaman-red),” katanya.

Untuk Kabupaten Berau, tahun ini merupakan pemberian obat filariasis (kaki gajah) yang pertama kali. Jadi, masih ada empat tahun lagi melaksanakan pemberian obat. Akan tetapi, untuk mencapai sasaran POPM filariasis bukan perkara mudah. Faktor lokasi yang menjadi salah satu kendala, karena ada beberapa daerah yang sulit dijangkau tenaga kesehatan.

Selain itu, masyarakat masih enggan memakan obat karena efek samping yang ditimbulkan. Seperti demam, mual dan pusing, sehingga masyarakat khawatir ketika memakan obat.

“Karena ini bukan hanya tahun ini, tahun depan juga akan kita laksanakan. Kita berharap mudah-mudahan tahun depan lebih daripada yang kita harapkan dari tahun sekarang ini,” pungkasnya.(Andi Sawega)