BKPP Kaltim Temukan Banyak Pangan Mengandung Zat Berbahaya, Ini Kata Dinkes Berau

 

TANJUNG REDEB – Pangan dan produk yang mengandung zat maupun cemaran berbahaya bagi kesehatan masih saja banyak ditemukan di Kaltim. Hal ini diungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kaltim, Fuad Asaddin didampingi Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan, Erwin Dharmawan pada Apresiasi Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan di BKPP Kaltim, Kamis (29/9/2016) lalu.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Totoh Hermanto melalui Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Andarias Baso mengatakan, pihaknya secara berkala selalu melakukan pemeriksaan terhadap pangan dan produk yang diperjualbelikan masyarakat.

“Selama ini kita selalu lakukan pemeriksaan, minimal 2 kali setahun. Tetapi, kalau ada laporan masyarakat yang dicurigai, kami juga turun melakukan pemeriksaan karena kita ada alat disini,” katanya ketika dikonfirmasi beraunews.com, Jumat (28/10/2016) kemarin.

Dikatakannya, jika pada pemeriksaan awal diketahui pangan dan produk itu ada yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan, seperti formalin, boraks, rhodamin, pewarna, pestisida serta bahan berbahaya lainnya, maka pihaknya segera mengambil beberapa sampel guna dilakukan pengecekan lebih lanjut di Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Kaltim, Samarinda.

“Kalau positif dari sana, maka barang itu kita tarik dan musnahkan,” tambahnya.

Dari pengawasan dan pemeriksaan yang pernah dilakukan Dinkes, diakui Andarias, pihaknya memang pernah menemukan adanya pangan yang mengandung zat berbahaya dengan kandungan Rodhamin B (sejenis boraks atau wantex yang banyak digunakan sebagai pewarna tekstil-red). Namun, hingga saat ini tidak pernah ditemukan lagi kejadian serupa.

“Yang lalu pernah kita dapat ikan kering dan tempe, tapi sekarang tidak ada lagi,” bebernya.

BACA JUGA : Hati-Hati!!! Banyak Ditemukan Pangan Mengandung Zat Berbahaya

Adanya kandung Rodhamin B itu, dijelaskan Andarias, ternyata berasal dari garam berwarna merah, yang digunakan untuk mengasinkan ikan tersebut. Dimana, garam itu berasal dari daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat.

“Dari Lombok dan waktu itu, setelah kita periksa, yang datang 1 kapal, mereka kembalikan sudah karena takut mereka bongkar di Batu Putih,” jelaskanya.

Selain itu, disampaikan Andarias, pihaknya juga selalu melakukan pengawasan dan pemeriksaan pada produk pangan olahan seperti makanan ringan yang dijual dipinggir jalan maupun disekitaran sekolah. Terkadang, personil Balai Besar POM Kaltim turut melakukan sidak di Kabupaten Berau bersama Dinkes.

“Seperti dulu, ada laporan masyarakat bahwa ada makanan disini yang tidak pernah basi-basi, ya kita ambil samplenya. Kita periksa dan tidak apa-apa,” ucapnya.

Terkait sertifikasi laik sehat rumah makan dan restoran, diungkap Andarias, pemeriksaan dilakukan ketika melakukan pengurusan maupun saat masa sertifikasi laik sehat tersebut telah habis, sesuai jangka waktu yang diberikan, yakni 1) Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi Rumah makan dan Restoran sementara berlaku selama 6 bulan dan dapat diperpanjang sebanyak-banyaknya 2 kali dan 2). Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi Rumah makan dan Restoran tetap berlaku selama 3 tahun dan dapat diperbaharui atau menjadi batal bilamana terjadi pergantian pemilik, pindah alamat.

“Kita turun periksa, mulai dari kebersihan lingkungan, cara pengelolaan di dapur, sumber bahan baku, sampai penyajian serta dinding-dinding ruangannya. Kita periksa kalau ada yang tidak memenuhi persyaratan, langsung diberi catatan supaya diperbaiki,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes, dikatakan Andarias, tercatat 198 rumah makan dan restoran yang terdaftar. Namun, tidak semua telah memiliki sertifikat laik sehat rumah makan dan restoran.

“Kalau beberapa saat dia tidak lakukan perbaikan, baru ditarik laik sehatnya,” pungkasnya.(Andi Sawega)