Waspada!!! Siklus DBD Sudah Dimulai

 

TANJUNG REDEB – Musim peralihan terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Berau. Dimana, tadinya musim panas sekarang menjadi musim hujan. Kondisi ini tentu rentan menimbulkan berbagai penyakit terutama Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Andarias Baso mengatakan, hingga akhir triwulan III, berdasarkan data sementara yang dirilis dari laporan petugas yang disebar ke puskesmas maupun data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, tercatat telah ada 426 kasus, dan angka kematian atas kasus DBD tersebut sebanyak 3 jiwa.

“Peningkatan kasus DBD, sudah mulai,” katanya saat ditemui beraunews.com di ruang kerjanya, Selasa (25/10/2016).

Bahkan, lanjut Andarias, pada bulan Oktober saja atau per tanggal 20 Oktober 2016, tercatat sudah ada 8 kasus DBD. Padahal, selama 2 bulan sebelumnya, di Bumi Batiwakkal sempat tidak ada kasus DBD.

“Ada yang sakit, ada 8 pasien. Di Batu Putih ada 2, di Gunung Tabur ada 2 dan sisanya di Tanjung Redeb,” lanjutnya.

Saat ini ada beberapa kawasan yang dianggap rawan terhadap endemik DBD, di antaranya di Jalan Durian I, Jalan Durian II dan III, Jalan Manggis, kawasan Gunung Panjang, sekitar Jalan Pulau Panjang hingga menyebar ke Gunung Tabur dan Kelurahan Rinding Teluk Bayur. Bahkan, kasus DBD juga terjadi di sejumlah kecamatan jauh dan pedalaman seperti di Kecamatan Segah, Talisayan hingga Biduk-Biduk.

“Makanya, sudah 2 minggu ini, tim gerak cepat sudah kita suruh fogging dan nanti akan dibantu oleh teman-teman KNPI. Kami sudah koordinasi dengan Sakirman (Ketua KNPI-red), mereka akan membantu. Tetapi memang anggarannya sih belum turun, tapi kita (dahului) daripada terlambat,” tambahnya.

BACA JUGA : KNPI “Semprot” Pemukiman Warga

Menurut Andarias, memasuki bulan Oktober hingga akhir Januari nanti, memang merupakan siklus penyebaran DBD. Puncak peningkatan kasus DBD biasanya terjadi di bulan Nopember. Dijelaskannya, pengasapan hanya efektif pada nyamuk dewasa, sementara jentik-jentik nyamuk tak terpengaruh dengan pengasapan.

"Jadi tidak cukup dengan fogging, harus dibarengi dengan pemberian abate ke tempat-tempat penampungan air. Kalau ada yang membutuhkan abate bisa koordinasi dengan Puskesmas terdekat atau ke Dinas Kesehatan, tidak ada pembayaran. Semua gratis, sama juga dengan fogging," imbuhnya.

 

Untuk itu, Andarias mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta membasmi nyamuk Aedes aegypti dan jentik-jentiknya. Ia juga memberikan tips kepada masyarakat untuk menghindari penyakit tersebut. Caranya sederhana, yaitu menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mengkonsumsi makanan bergizi semisal dari sayur-sayuran dan buah-buahan.

“Yang saya sayangkan ketika tim gerak cepat turun melakukan fogging, tetapi ada beberapa sekolah yang tidak mau dilakukan fogging. Seperti, di PGRI, terus ada TK juga. Itu sangat disayangkan karena tidak menutup kemungkinan ada sumbernya disitu. Padahal, menurut penelitian juga, itu kebanyakan kena saat jam kerja dan di sekolah,” pungkasnya.(Andi Sawega)