Air Minum Isi Ulang Tak Diuji Kelayakannya

 

BATU PUTIH – Keberadaan air galon isi ulang memang sangat membantu masyarakat terutama untuk konsumsi sehari-hari. Bahkan tak jarang, di sejumlah wilayah terjauh sekalipun sudah banyak berdiri depo-depo air isi ulang. Namun bukan berarti air isi ulang tersebut layak untuk dikonsumsi.

Di wilayah pesisir selatan Berau misalnya. Setidaknya ada puluhan depo air minum isi ulang yang berdiri di berbagai wilayah Kecamatan Tabalar, Biatan, Talisayan, Batu Putih, dan Biduk-Biduk. Tetapi, cukup banyak diantara depo tersebut yang masih tidak memperhatikan kewajiban rutin, yang dilakukan setiap enam bulan sekali, yakni memberikan sampel ke Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui Puskesmas di wilayah masing-masing.

Diungkapkan Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Berau, Andarias Baso, sampai saat ini kesadaran pemilik depo masih kurang. Hal itu dilihat dari aturan yang telah ditetapkan, yakni selalu memberikan sampel kepada pihak puskesmas namun masih dilanggar pemilik depo.

Padahal hal itu dikatakannya, agar kandungan bakteri yang ada di air tersebut dapat diketahui. Apalagi sebagian besar air yang digunakan untuk isi ulang berasal dari sumur bor yang memiliki kandungan kapur tinggi dan bakteri E.Colli.

“Memang ada yang memenuhi syarat dan ada yang belum,” ungkapnya pada beraunews.com, Minggu (18/9/2016).

Sebenarnya, terkait uji sampel depo air minum isi ulang yang ada di wilayah pesisir selatan Berau merupakan tugas dari puskesmas masing-masing, khususnya petugas sanitarian. Petugas ini lanjut dia, rutin melakukan pemantauan kepada sejumlah depo air minum agar selalu memperhatikan kelaikan air yang dijual kepada masyarakat.

“Jadi setiap enam bulan harus ada uji sampel lagi. Saya kira petugas sanitarian di puskesmas harus jemput bola kepada pemilik depo yang tidak melakukan uji sampel, karena air yang diproduksi dijual kepada masyarakat luas,” bebernya.

Disamping itu, dirinya juga banyak mendapati proses isi ulang yang dilakukan oleh pemilik depo terkesan asal-asalan. Seperti tidak mencuci galon saat hendak diisi, padahal didalamnya ada lumut, dan selang isi ulang yang terlalu panjang. Pemilik depo ditekankannya, harus lebih mengutamakan kebersihan dan pemeliharaan alat yang digunakan. Pasalnya, dikhawatirkan bakteri E.Colli dapat tumbuh subur, dan zat kapur tidak tersaring dengan baik.

Apalagi menurutnya, bakteri E.Colli dan zat kapur dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi tubuh. Seperti diketahui bakteri E.Colli dapat menimbulkan muntaber, dan zat kapur dapat menimbulkan penyakit batu ginjal.

“Makanya pemilik depo harus ikut aturan. Kalau memang tidak menghiraukan apa yang telah jadi peraturan dan kewajiban pemilik depo, akan kita berikan surat teguran atau peringatan. Jika tetap tidak diperhatikan maka usahanya akan ditutup sementara. Itu sesuai dengan undang-undang perlindungan konsumen,” jelasnya.

Ia mengakui, salah satu kendala pihaknya dalam melakukan pengawasan adalah minimnya fasilitas dalam melakukan uji sampel. Dimana, saat ini hanya ada dua unit alat yang digunakan pihaknya dalam melakukan pengujian air.

“Itupun bergantian, seperti hari ini Talisayan besok Batu Putih. Memang seharusnya setiap puskesmas itu harusnya ada, disinilah kerepotan kita,” bebernya

Ia mengimbau agar pemilik depo dapat selalu memperhatikan kebersihan dalam menjaga kualitas air, sehingga air minum isi ulang yang dijual ke masyarakat tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan konsumen. Disamping itu, dirinya juga mengimbau kepada petugas puskesmas juga dapat lebih giat lagi melakukan pengawasan kepada depo-depo yang saat ini sedang beroperasi.(Hendra Irawan)