Bahaya!!! 90 Persen Perceraian Berawal dari Kecanduan Gadget

 

TANJUNG REDEB – Gadget berupa tablet atau telepon pintar sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kemanapun benda tersebut akan selalu menemani, bahkan ketika menghabiskan waktu bersama pasangan (keluarga) entah untuk berinteraksi melalui media sosial atau sekadar main game. Gilanya lagi, ada yang rela ditinggalkan pasangan daripada ketinggalan gadget.

Perlahan tapi pasti dan seringkali tidak disadari, kehadiran gadget, apalagi bagi yang sudah kecanduan menggunakannya, merasuk terlalu jauh dalam hubungan pernikahan. Dan secara perlahan keintiman antara pasangan memudar, dan memberikan dampak negatif (buruk) terhadap keharmonisan hubungan rumah tangga.

Menurut Psikolog Seksual, Zoya Amirin, apabila sepasang suami istri tidak bisa mengendalikan penggunaan gadget, maka gadget dapat mempengaruhi psikologis dan kehidupan seksual pasangan suami istri, yang pada gilirannya menyebabkan keretakan rumah tangga.

Hal tersebut disampaikan Zoya, berdasarkan banyaknya keluhan klien mengenai hubungan seksual dengan pasangannya karena kecanduan gadget hingga penggunaannya dibawa ke atas ranjang.

“Hubungan suami istri itu tergantung kualitas pertemuan mereka, bila kualitas itu terganggu bisa dipastikan terdapat keretakan. Oleh sebab itu, disarankan agar pasangan suami istri sebaiknya meletakkan gadget masing-masing bila sudah berada di rumah,” ujarnya sebagaimana dikutip beraunews.com dari laman bisnis.com, Jumat (13/04/2018).

Lalu bagaimana pengaruh gadget terhadap keharmonisan dalam rumah tangga di Kabupaten Berau? Ternyata lebih mencengangkan lagi. Betapa tidak, 90 persen lebih akar permasalahan dalam kasus perceraian, berawal dari kecanduan gadget, khususnya lupa diri dalam bermedia sosial (medsos).

“Faktor penyebab perceraian itu banyak sekali, mulai dari ketidakharmonisan, kekerasan dalam rumah tangga hingga perselingkuhan. Tapi dari sekian banyaknya kasus perceraian di Kabupaten Berau, ternyata setelah ditelusuri lebih jauh, lebih dari 90 persen berawal dari lupa diri dalam bermedia sosial,” ungkap salah satu pengacara kasus perceraian yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan.

 

Ditemui terpisah, Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau, Etna Anjani Trunoyudho mengatakan, pada dasarnya penggunaan gadget yang berlebihan mempunyai dampak mengurangi kualitas hubungan di dalam keluarga.

"Sebaiknya di dalam keluarga ada kesepakatan penggunaan gadget, baik untuk anak dan orangtua. Yang lagi trend adalah 18-21, artinya pada pukul 18.00-21.00 dimana biasanya ayah, ibu, anak sudah berada seluruhnya di rumah, maka buatlah aktifitas bersama tanpa gadget. Misalnya, makan malam bersama (no gadget) sambil menceritakan keseharian masing-masing, menemani anak belajar atau bermain," imbuhnya.

Selain itu, lanjut Etna, sebagai orang yang sudah berkeluarga memang perlu paham terhadap batasan-batasan yang memang wajib untuk dihindari agar tidak menimbulkan kecurigaan salah satu pihak. Saat ada permasalahan, hindari curhat melalui media sosial ataupun teman di grup sosmed. Selain belum tentu mendapatkan solusi, permasalahan keluarga bukanlah sesuatu yang patut diketahui orang lain.

“Dalam membina rumah tangga, perlu ada rasa percaya dan bijak dalam menentukan batasan berteman di dunia maya. Misal, urusan pekerjaan sedapat mungkin diselesaikan di kantor, apabila urusan penting harus menghubungi di luar jam kerja, komunikasikan dengan pasangan sehingga tidak timbul prasangka, membatasi pertemanan dengan tidak membahas masalah pribadi,” bebernya.

Terpenting kata Etna, dalam menjaga keharmonisan keluarga, komunikasi merupakan faktor yang paling penting. Selain itu, jika permasalahan dalam keluarga tidak dapat diselesaikan berkonsultasilah kepada ahlinya sehingga dapat menemukan solusinya.

“Bisa saja datang langsung ke PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) SANGGAM, di sini gratis. Jadi kalau bisa, kalau mau curhat ataupun ada masalah di keluarga itu diselesaikan dan dikomunikasikan di dalam keluarga saja. Kalau misal tidak menemukan titik temu konsultasikanlah ke ahlinya, agar masalah yang ada tidak menyebar kemana-mana,” pungkasnya.(Miko Gusti Nanda/bnc)