‘Jelajah Kalimantan’, Sembilan Tahun Keliling Benua Etam Demi Selamatkan Kebudayaan Hingga Orangutan

 

TANJUNG REDEB – Berawal dari keinginannya untuk mempromosikan pariwisata tersembunyi pada pulau terbesar di dunia setelah Greendland dan Papua, Nasrudin Ansori, kemudian menyerahkan bertahun-tahun hidupnya untuk menjelajah Pulau Kalimantan.

Dimulai sejak tahun 2008, pria yang memiliki pekerjaan utama sebagai pengusaha perjalanan pariwisata ini, bertekad mengunjungi seluruh penjuru Benua Etam (sebutan Pulau Kalimantan) yang terbagi atas lima wilayah provinsi, serta mengabadikan kisah perjalanannya dalam sebuah buku bertajuk ‘Jelajah Kalimantan’.

Buku yang terdiri sekitar 400 halaman tersebut, ia susun sejak dua tahun silam. Dengan menyertakan seluruh kisah perjalanannya, ia juga memuat beberapa pengalaman baru dan foto perjalanannya selama menjelajah Kalimantan.

 

Mulai dari pengalamannya berkenalan dengan suku Dayak di pedalaman Kalimantan, mencicipi kuliner khas milik suku-suku asli Kalimantan, berpetualang bersama Kepala Kampung untuk menjelajah hutan adat masyarakat dan melihat-lihat habitat orangutan,  serta beberapa biota laut yang hanya hidup di perairan Kalimantan.

“Selama ini Kalimantan hanya dikenal sebagai pulau penghasil batuþbara, minyak, biji besi dan lain-lain. Padahal kalau kita telusuri, yang lebih berharga dari itu, justru lebih banyak. Contohnya adat, budaya dan tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang, khususnya pada suku-suku Dayak. Juga banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi sebagai objek pariwisata yang tidak kalah indah dengan daerah lainnya,” ungkap pria kelahiran Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah tersebut saat berbincang bersama beraunews.com, beberapa waktu lalu.

Dalam buku pertamanya tersebut, ia juga menceritakan sedikit bagaimana kehidupan orangutan yang banyak menjadi incaran pemburu liar. Sehingga melalui tulisannya, ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk dapat menjaga dan melindungi habitat orangutan di Kalimantan. Begitu juga dengan biota laut seperti penyu, parimanta, hiu tutul, dugong dan ubur-ubur tidak menyengat yang hanya ada di dua tempat di seluruh dunia.

“Saya punya usaha tour wisata. Nah, tamu saya ini kebanyakan dari mancanegara. Saat berkunjung ke Kalimantan, yang ingin mereka kunjungi itu selalu adalah orangutannya. Bahkan, orang asing ini saja lebih menjaga, sehingga sebagai pemilik dan tuan rumahnya kita mestinya bisa lebih menjaga dari mereka,” ucap pria yang juga beberapa kali menulis untuk majalah nasional tersebut.

 

Banyak suka dan duka yang ia rasakan sejak menjelajah Kalimantan. Mulai dari kebahagiaan yang dirasakannya saat bertemu dan berinteraksi langsung dengan orangutan, parimanta, ubur-ubur tak menyengat hingga hiu tutul. Namun banyak juga duka yang terkadang menyelimuti hati dan perasaannya tatkala melihat pembukaan lahan perkebunan sawit yang memperkecil luas hutan tempat hidupnya habitat orangutan, hingga lubang-lubang bekas tambang batubara yang masih menganga dan bahkan memakan korban di beberapa daerah.

Meski sempat terkendala biaya dan waktu untuk menyelesaikan buku pertamanya tersebut, Nasrudin, akhirnya berhasil mencetak buku tersebut menjadi buku siap distribusi dan dinikmati oleh pembacanya.

“Akhir bulan ini, buku ‘Jelajah Kalimantan’ sudah bisa didapatkan bagi yang penasaran bagaimana serunya Kalimantan. Kami mencetaknya tidak begitu banyak, hanya untuk yang memesan dan untuk didistribusikan ke Ibukota Jakarta saja. Dan perlu diketahui bahwa ini bukan buku fotografi, melainkan buku yang menceritakan perjalanan saya keliling Kalimantan,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia