Turut Selamatkan Alam dan Budaya Benua Etam, Ebbie Kelilingi Lima Provinsi Kalimantan

 

KELAY – Derasnya arus modernisasi ternyata bukan hanya menuntut perubahan pada jiwa manusia, namun juga pada kondisi alam dan isinya, bahkan flora dan faunanya sekalipun. Akibatnya, peradaban mulai bergeser. Tradisi, budaya, adat dan istiadat nenek moyang yang diwariskan pun tak luput dari gerusan modernisasi.

Sebutan paru-paru dunia yang melekat pada hutan Kalimantan, bak sebuah penghargaan yang diberikan dunia untuk ‘benua etam’ (sebutan Pulau Kalimantan). Namun berlakukah sebutan tersebut di era modernisasi saat ini? Sebab tak bisa dipungkiri, sedikit demi sedikit hutan yang menjadi penyumbang oksigen terbesar untuk umat manusia di dunia ini perlahan mulai gundul. Kini paru-paru dunia seakan mengalami kronis yang mendalam. Sebabnya, mulai banyak lubang tambang, hamparan perkebunan sawit, hingga penebangan liar yang memerawani hutan Kalimantan.

Begitu juga dengan kearifan lokal masyarakat. Berganti dengan bermacam-macam kebudayaan yang diadopsi dari budaya asing. Kekhawatiran akan terlupakannya budaya asli nenek moyang pun kian mendengung di telinga-telinga mereka yang masih dapat mengendalikan diri atas tarikan modernisasi.

Salah satunya seperti yang dirasakan penulis buku sekaligus fotografer asal Sumatera Selatan, Ebbie Vebri Adrian. Pria yang akrab disapa Ebbie tersebut, merasakan kekhawatiran yang amat sangat mendalam terhadap pengaruh modernisasi yang saat ini dapat menggerus paksa sisa-sisa nilai kebudayaan dan kekayaan alam yang dimiliki masyarakat saat ini.

Kekhawatiran itu kemudian ia rangkum menjadi satu dalam pikirannya, yang kemudian mendorongnya untuk melakukan sebuah misi perjalanan untuk menyelamatkan nilai-nilai budaya, alam, beserta flora, fauna dan manusia, melalui sebuah buku. Sebelumnya ia juga telah sukses menciptakan sebuah buku perjalanan berjudul ‘Indonesia a World of Treasure’.

“Hanya ada satu tujuan saya melakukan misi perjalanan ini. Ialah membuat sebuah karya berupa buku yang memuat segala tentang alam, flora, fauna, budaya, adat dan istiadat yang ada di Kalimantan. Perjalanan ini saya namakan ‘Borneo Journey’. Dan belum pernah ada yang menerbitkan buku yang berisi lengkap tentang Kalimantan ini,” tuturnya bersemangat saat diwawancarai beraunews.com, di Puncak Ketepu, Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, beberapa waktu lalu.

Dimulai sejak Kamis (16/03/2017), ia kemudian menyambangi Kota Tarakan, Kalimantan Utara, untuk mendokumentasikan segala kekayaan alam yang ada di kota tersebut. Mulai dari flora, fauna, sejarah, alam, maupun nilai kebudayaan yang ada. Perjalanan tersebut kemudian akan dilanjutkannya hingga ke lima provinsi yang ada di Kalimantan, termasuk Berau, Kalimantan Timur.

 

Perjalanannya di Berau sejak Jumat (31/03/2017), dimulai dari Kepulauan Derawan, yakni Pulau Derawan dan Maratua, Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-Biduk, dan Kampung Merabu, Kecamatan Kelay.

“Mengapa saya ingin membuat buku ini? Karena saya ingin anak-anak khususnya anak asli Kalimantan, lebih mengenal alam dan budayanya sendiri. Begitu juga masyarakat daerah lain, bisa lebih mengenal potensi yang dimiliki Kalimantan. Dengan begitu bisa lebih menghargai daerah masing-masing, khususnya daerah ini sebagai paru-paru dunia,” kisahnya sambil memotret deretan bentangan karst Sangkulirang-Mangkalihat, yang terbentang indah dari Kutai Timur hingga Berau.

Misinya untuk menciptakan buku melalui perjalannya tersebut, diakuinya juga tanpa ada sponsor. Sehingga wacanannya untuk menyalurkan buku tersebut akan sangat terbatas, hanya sekitar 500 buah buku untuk seluruh sekolah ditingkat SD, SLTP, SLTA hingga Universitas di lima provinsi Kalimantan.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia