Ini Teknik Jitu Ciptakan Kebersamaan Dalam Keluarga

 

TANJUNG REDEB – Jika saudara pada umumnya setelah menikah memilih tinggal terpisah satu sama lain, dan jarang berkumpul bersama terkecuali jika ada acara, beda halnya dengan keluarga besar Kuratul Aini dan Murjani ini. Lantas, apa yang membuat keluarga ini menarik bahkan bisa menjadi contoh bagi keluarga-keluarga lainnya, terlebih di zaman yang serba luntur ikatan kekeluargaan seperti saat ini?.

Rumah terletak di Jalan Cempaka Kuning ini tak pernah sepi. Bukan lantaran adanya studio musik yang sering disewa anak-anak band guna take vocal (perekaman suara-red), melainkan kumpulnya keluarga yang terdiri dari saudara, anak dan cucu ini, dalam satu rumah, dan itupun dilakukan setiap hari.

Pemandangan seperti ini sudah biasa bagi tetangga di lingkungan Jalan Cempaka Kuning. Malahan, jika sepi justru terlihat sangat berbeda.

“Setiap hari ya seperti ini. Anak-anak mengaji bersama, kemudian orang tua masing-masing anak yang merupakan saudara-saudara saya juga berkumpul,” terang Kuratul Aini kepada beraunews.com, Jumat (24/02/2017).

Awalnya, hanya 1 anak yang berniat untuk belajar mengaji, yakni cucu dari Kuratul Aini. Tetapi, seiring waktu, rupanya hal ini juga menggugah dirinya sendiri dan saudara-saudaranya bahkan anak-anak mereka masing-masing untuk ikut pula belajar mengaji.

“Cucu saya awalnya minta belajar mengaji, akhirnya saya mencarikan guru ngaji. Kemudian, saat saudara yang lain datang berkunjung, ternyata mereka juga tertarik untuk ikut mengaji dan mempelajari Alquran lebih dalam lagi, karena melihat ibu guru yang mengajari ini sangat sabar menghadapi anak-anak. Akhirnya sekarang ya sudah ada 8 anak yang merupakan cucu dan anak saudara-saudara saya yang ikut mengaji,” beber perempuan 8 saudara ini.

Meskipun rumah saudara-saudaranya masih dalam area Tanjung Redeb dan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tetapi selalu saja ada waktu disisihkan walaupun hanya sekadar mengantar anak mereka mengaji.

“Mulanya hanya mengantar anaknya ngaji, tapi secara tidak langsung ini malah jadi ajang kumpul saudara semua, bahkan kami sering saling sharing (berbagi-red) cerita,” ucapnya.

Rupanya, kumpul keluarga ini sudah berjalan sejak 1999. Bahkan, jika ada salah satu anggota keluarga atau saudara tidak datang ke rumah, menjadi pertanyaan bagi yang lainnya.

“Pernah adik tidak datang selama 2 malam, dicari oleh saudara yang lainnya. Khawatir juga, entah sakit atau ada masalah apa? Karena biasanya mereka selalu menyempatkan hadir meskipun cuaca sedang hujan,” imbuhnya.

Ternyata, tradisi ini tidak hanya berlaku di saat jam kumpul mengaji saja. Untuk pergi ke undangan pernikahan pun mereka selalu membuat janji untuk berangkat bersama-sama. Diakui Kuratul Aini, hal-hal simpel seperti ini justru yang membuat keluarga besarnya selalu berkumpul. Jadi, tak hanya saat acara keluarga, pengajian saat hendak berangkat haji, atau liburan saja mereka bisa berkumpul bersama-sama.

Umi Masitah, pengajar privat mengaji yang didatangkan oleh Kuratul Aini juga merasakan adanya ikatan tali kekeluargaan yang sangat erat dalam keluarga ini. Bahkan, sejak ia menjadi pengajar ngaji selama hampir 18 tahun, baru kali pertama ia menjumpai keluarga yang seperti ini.

“Ya biasanya kalau saya mengajari ngaji itu memang dalam satu rumah, tetapi itu dari tetangga-tetangga sekitar. Nah kalau di sini, yang saya ajari justru anggota keluarga ibu Kuratul Aini semua, mulai dari anak, cucu, hingga ibu-ibunya sendiri,” ungkapnya setelah selesai mengajar mengaji.

Meskipun hanya dari jam 19.00 Wita hingga 22.00 Wita, diakui Umi Masitah menjadi jam efektif kumpul keluarga bagi Kuratul Aini dengan saudara-saudaranya. Umi sendiri mengakui ia juga mulai menerapkan teknik ini guna dapat berkumpul dengan keluarga besarnya.

“Saya salut dan Subhanallah sekali melihat keluarga ini. Saya sendiri bahkan menerapkan teknik ini dalam keluarga saya, dan saya rasa ini juga bisa menjadi contoh bagi keluarga-keluarga lainnya. Siapa sangka dengan mengaji, justru dari situlah keterikatan dan kedekatan keluarga semakin erat. Tak hanya anak cucu, bahkan sesama saudara juga bisa terjalin kebersamaan,” terangnya.(bnc)