Data Indonesia dan Dunia, Korban Laka Lantas Usia Remaja Urutan Kedua Terbanyak - Anak Di Bawah Umur Juga Tetap Dikenai Tilang

 

TANJUNG REDEB – Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak di bawah umur masih sering ditemukan dalam operasi maupun patroli Satlantas Polres Berau. Sesuai pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara di bawah umur tersebut, polisi jelas memberikan tindakan tilang sesuai yang diatur dalam undang-undang lalu lintas jika memang mereka tidak dilengkapi dengan kelengkapan berkendara.

Kasat lantas Polres Berau, AKP Wisnu Dian Ristanto mengatakan, terkait tindakan hukum yang dilakukan terhadap anak di bawah umur sama saja dengan yang dilakukan orang dewasa selama mereka melakukan pelanggaran lalu lintas karena berkendara tidak dilengkapi surat-surat. Namun, jika terjadi kecelakaan lalu lintas, maka ada proses hukum yang berbeda terhadap anak di bawah umur.

"Kalau tilang tetap sama saja dengan yang dewasa, intinya mereka tidak dilengkapi dengan surat izin berkendara. Tapi jika mereka terlibat dalam laka lantas, maka ada undang-undang diversi yang digunakan," ungkapnya saat ditemui beraunews.com, Minggu (05/03/2017) di ruang kerjanya.

Dikatakannya, diversi sendiri maksudnya pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana, sebagaimana yang disebut dalam pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 11/2012 tentang sistem peradilan anak.

"Diversi itu dimaksudkan untuk menghindarkan atau menjauhkan anak dari proses peradilan, sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak, dan diharapkan anak dapat dikembalikan dalam lingkungan sosial secara wajar," tambahnya.

Untuk kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak di bawah umur sendiri sejauh ini minim. Namun, beberapa kejadian tetap menjadi perhatian Satlantas untuk terus menekan angka kejadian setiap tahunnya.

"Ada kejadian beberapa, tapi tidak tinggi. Walau demikian itu tetap jadi perhatian kami," jelasnya.

Diminta tanggapan terkait banyaknya anak sekolah yang masih di bawah umur di perkampungan yang menggunakan motor, Wisnu menjawab jika pihaknya sudah memiliki rencana untuk melakukan sosialisasi terlebih dahulu di beberapa daerah perkampungan. Selain itu akan melibatkan Bhabinkamtibmas yang akan melakukan pengawasan setiap harinya.

"Kami rencananya akan melakukan giat di beberapa kecamatan seperti Talisayan, Gunung Tabur, maupun Teluk Bayur dan berkoordinasi dengan Polsek-Polsek. Karena kami tidak mungkin setiap hari melakukan giat atau pengawasan di lokasi-lokasi tersebut," jelasnya.

Anak sekolah yang biasanya membawa motor sering mengaku jika orang tua mereka tak bisa mengantar dan lebih menyarankan si anak membawa motor sendiri. Menanggapi hal itu, Wisnu mengembalikan kepada orang tua apakah lebih sayang dengan waktu 10 menit untuk mengantar jemput anaknya atau nyawa anaknya.

"Anak di bawah umur itu belum memiliki nalar seperti orang dewasa atau yang sudah cukup umur dan mereka belum bisa mengambil keputusan. Sehingga mereka lebih memikirkan apa yang mereka lakukan saat ini tanpa memikirkan efek ke depannya," bebernya.

Selain itu, untuk anak sekolah sendiri Satlantas hanya bisa melakukan penindakan dan sosialisasi kepada sekolah-sekolah maupun orang tua. Namun, untuk solusi sendiri cenderung kepada orang tua ataupun pemerintah.

"Kembali ke orang tua lagi dan pemerintah. Apakah anak-anak sekolah itu diantar jemput oleh orang tua atau ada bus sekolahnya?" terangnya.

Beberapa pekan terakhir ini diakui Wisnu pihaknya bersama jajaran Satlantas Polres Berau tengah gencar melakukan sosialisasi terkait lalu lintas. Diharapkan hal ini dapat menggiatkan kesadaran masyarakat agar menekan angka kecelakaan maupun pelanggaran lalu lintas.

"Kami harap masyarakat bisa sadar dan membantu pihak kepolisian dalam menekan angka laka lantas dan pelanggaran, dan perhatikan masa depan anak-anak juga yang akan menjadi generasi penerus kita," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: R. Amelia