Data Indonesia dan Dunia, Korban Laka Lantas Usia Remaja Urutan Kedua Terbanyak - Anak Di bawah Umur Kendarai Sepeda Motor, Salah Siapa?

 

TANJUNG REDEB – Kasus kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan anak di bawah umur, kerap menjadi topik pembahasan yang menarik di kalangan masyarakat. Apalagi, jika kasus laka lantas tersebut sampai merenggut nyawa pengendara dan korbannya.

Seperti laka lantas yang baru-baru ini terjadi di Kecamatan Talisayan, seorang guru PNS harus meregang nyawa di aspal setelah sepeda motor miliknya bertabrakan dengan sepeda motor yang dikendarai warga Kampung Dumaring, yang tidak lain adalah salah seorang siswa yang masih duduk di bangku SD.

Singkat cerita, laka lantas berujung maut tersebut terjadi setelah sepeda motor yang dikendarai siswa SD tersebut hilang kendali akibat melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Kasus tersebut hanya sebagian kecil dari banyaknya kasus laka lantas yang melibatkan anak di bawah umur. Meski sudah sering terjadi, namun seperti jamur di musim hujan, keberadaan anak di bawah umur yang berani mengendarai sepeda motor seolah menjadi tren masa kini yang wajib diikuti. Begitu kiranya.

Melihat fenomena tersebut, lantas muncul tanya yang sangat menarik untuk dicari jawabannya bersama. Mengapa orang tua si anak memperbolehkan menggunakan sepeda motor? Sementara untuk mengendarai motor, batas usia paling tidak sudah bisa memegang Surat Izin Mengemudi (SIM), yakni minimal 17 tahun. Bahkan tidak jarang, anak yang masih duduk di bangku SD maupun SMP, sengaja diberikan orang tuanya sepeda motor. Banyak yang mengutarakan pendapatnya terkait hal itu.

Jika membahas hal ini, berbagai spekulasi pun bermunculan. Ada yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lumrah, sebab dengan menggunakan kendaraan sendiri, si anak dapat lebih mudah menjangkau tempatnya bersekolah ataupun kegiatan lainnya, sehingga beban orang tua khususnya yang memiliki kesibukan lain dapat sedikit terbantukan dengan adanya kendaraan khusus untuk si buah hati.

Ada pula yang menganggap hal tersebut ialah sebuah kelalaian orang tua selaku pihak yang semestinya memberikan tindakan preventif terhadap keselamatan si anak khususnya di jalan raya.

Bahkan ada juga yang menganggap hal tersebut sebuah kebobrokan moral orang tua dan bentuk kasih sayang yang menjerumuskan anak pada hal-hal yang tidak diinginkan. Salah satunya hingga nyawa melayang percuma di jalan raya.

"Sebenarnya sangat disayangkan anak di bawah umur yang sudah berani mengendarai kendaraan bermotor. Hal ini dikarenakan anak masih belum cukup umur atau masih belum memenuhi standar usia diperbolehkannya mengendarai motor. Keberanian mengendarai motor tentu saja akan menjadi kebiasaan berani. Yang tentu saja rasa takut terhadap kecelakaan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, tidak dipikirkan oleh anak-anak yang berkendara tersebut," begitu yang diungkapkan Syaifuddin, salah seorang warga yang juga merupakan pemerhati sosial masyarakat saat diminta mengemukakan pendapatnya atas fenomena tersebut kepada beraunews.com, Minggu (05/03/2017).

Dalam pandangannya, jika anak di bawah umur, yang pada prinsipnya masih berjiwa labil dan mengedepankan egoismenya sampai pada puncak keberaniannya, hal terburuk pun dapat terjadi. Bahkan saat ini sudah banyak anak usia di bawah umur yang secara fisik masih tak pantas mengendarai sepeda motor, justru lebih sering tampak mengitari ruas-ruas jalan di kota bersama kelompok bermainnya.

"Apalagi jika anak-anak di bawah umur dan mengendarai motor itu telah memiliki kelompok, keberanian akan memuncak, seperti menguasai jalan. Sehingga ketika terjadi kejadian yang fatal, maka hal ini akan merugikan pihak manapun yang terkait," ujarnya.

Ia juga menilai, orang tua yang membiarkan dan memberikan sepeda motor kepada anak yang masih di bawah umur, perlu mempertimbangkan dalam-dalam. Sebab, tak hanya mengancam keselamatan sang anak, juga keselamatan pengendara lain yang sudah pasti akan dirugikan.

"Perhatian orang tua sangat diperlukan untuk pengawasan anaknya yang masih belum waktunya untuk berkendara motor. Jika orang tua mengizinkan anaknya yang belum cukup usia, ini sama saja keselamatan anak belum terperhatikan. Kalau memang benar sayang kepada anak, maka jangan berikan kendaraan jika belum waktunya. Apapun alasannya," ucapnya.

Sebab memang benar, dikatakannya usia remaja adalah usia dimana anak ingin mencoba segala hal, bahkan hal yang beresiko tinggi sekalipun, termasuk mengebut di jalan.

"Jika anak kurang diperhatikan oleh orang tuanya, tentu saja anak tersebut akan melakukan segala hal yang dimana dia bisa dapat perhatian. Termasuk balapan motor. Selagi balapan motor anak itu dipuji oleh teman-temannya, maka tingkat keberanian akan memuncak. Maka ini tugas kita selaku orang tua agar memberikan perhatian yang baik kepada anak mereka, jangan perhatian itu justru dengan cara memberikan sepeda motor. Mungkin dengan cara lain, yakni antar jemput si anak akan lebih aman," jelasnya.

Sebagai masyarakat, dikatakannya terkadang merasa terganggu dengan anak yang masih usia dini namun sudah berani mengendarai motor.

"Dimana kadang kami sebagai masyarakat sudah berjalan pada jalur yang benar, ada saja anak-anak yang bahkan menguasai jalan dan melawan jalur. Kadang kekhawatiran pribadi saat mengendarai motor itu selalu mengikuti kami, khususnya di area tikungan tajam. Seperti yang telah terjadi di Talisayan beberapa waktu lalu sebagaimana diberitakan oleh beraunews.com. Sebagai masyarakat, kami mohon kerjasamanya kepada orang tua anak agar lebih diperhatikan lagi ketika mengizinkan anaknya mengendarai motor. Pertimbangkan keselamatan anak dan orang lain di jalan," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia