Tertangkap Basah Bersetubuh, Laki-Laki Pesakitan, Perempuan Korban??? - Seharusnya Kedua Pihak Mendapatkan Hukuman

 

Banyak kasus persetubuhan yang terjadi pada usia dewasa atau cukup umur, yang masih dijumpai di masyarakat. Tetapi, apakah persetubuhan yang dilakukan atas dasar suka sama suka ini masih tetap dilanjutkan proses hukumnya? Dan mengapa hanya pihak laki-laki saja yang kebanyakan menjadi terdakwa?

Fika Yuliana, menanggapi hal ini sebagai fenomena di masyarakat, karena menurutnya, justru untuk kasus persetubuhan yang dilakukan atas dasar suka sama suka, kedua belah pihak masing-masing harus mendapatkan hukuman.

“Memang tidak adil, harusnya pihak laki-laki dan perempuan mendapat hukuman sesuai porsi masing-masing, karena mereka kan melakukannya tanpa paksaan dari siapapun. Ini dari sudut pandang pribadi saya ya, terlepas dari status saya sebagai Ketua P2TP2A, karena kalau dari sisi P2TP2A pastinya akan bertolak belakang, lantaran tugasnya memang mendampingi kaum perempuan dan anak-anak,” ungkapnya.

Menurutnya, ketimpangan seperti inilah yang mestinya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, karena hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia sudah dipaparkan dengan jelas, bahwa pihak laki-laki yang melakukan persetubuhan, dan dilaporkan ke polisi, sudah pasti akan mendapat hukuman.

“Sebenarnya, untuk kasus seperti ini, kuncinya adalah di orang tua, khususnya orang tua pihak perempuan. Karena biasanya, setelah mengetahui hal ini, orang tua si perempuan merasa tidak terima atau keberatan, lalu melaporkan si laki-laki ke pihak berwajib, sehingga mau tidak mau harus diproses secara hukum,” terangnya.

“Padahal, kalau orang tua masing-masing pihak mengerti kondisi sebenarnya, bahwa putra dan putri mereka melakukan dengan dasar suka sama suka, tidak ada alasan untuk melaporkan si laki-laki. Malah, kalaupun putra putri mereka memang sudah saling suka, bisa saja diambil keputusan bersama, atau lebih baiknya lagi melegalkan hubungan anak-anaknya dengan ikatan pernikahan. Tapi, ini untuk kasus yang termasuk dalam usia dewasa atau cukup umur ya,” lanjutnya.

Sebenarnya, menurut Fika, untuk kasus seperti ini masih bisa diminimalisir. Salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman dan mengubah stigma kepada orang tua pihak laki-laki dan perempuan, bahwasannya, tidak semua kasus persetubuhan diselesaikan melalui hukum.(bnc)