Tertangkap Basah Bersetubuh, Laki-Laki Pesakitan, Perempuan Korban??? - P2TP2A : Apapun Kasusnya, Tugas Kami Mendampingi Perempuan

 

Persetubuhan, perselingkuhan, perzinahan, bukan lagi hal tabu bagi masyarakat. Bahkan, hal ini dilakukan tak hanya orang dewasa, tapi juga usia remaja, yang notabenenya masih belum boleh melakukan hal itu.

Beberapa kasus yang ditemukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau ternyata cukup mengejutkan. Kasus persetubuhan dan pencabulan anak di bawah umur cukup signifikan. Begitupun dengan kasus persetubuhan usia cukup atau dewasa.

Untuk kasus seperti ini, diakui Fika Yuliana, Ketua P2TP2A Berau, pihaknya akan terus mendampingi si korban.

“Biasanya pihak perempuan yang memang menjadi korban, dan sudah tugas kami untuk mendampingi apapun kondisinya. Entah si perempuan ini melakukannya dengan paksaan atau atas dasar suka sama suka,” terangnya kepada beraunews, Sabtu (04/02/2017).

Lantas, bagaimana dengan pihak laki-laki? Mengapa hanya perempuan saja yang mendapat perlindungan? Pertanyaan inilah yang hingga kini masih banyak bergelayut di pikiran masyarakat.

Menjawab ini, Fika (sapaan akrabnya-red), mengakui jika hal ini tidak bisa dipungkiri. Pertanyaan-pertanyaan yang ada itu memang masih menjadi pekerjaan rumah hingga sekarang.

“Susah ya, ketimpangan ini kan memang sudah biasa di masyarakat selama ini. Dan kami dari P2TP2A memang sudah tugasnya mendampingi si korban, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, jika ada laporan masuk terkait kasus ini, pihak perempuan pasti akan kami dampingi,” tegasnya.

Terlebih, jika kasus pelecehan atau pencabulan dimana si korban ini masih di bawah umur, sudah pasti akan menjadi tanggung jawab penuh P2TP2A untuk selalu mendampingi dan mengikuti perkembangan kondisi si anak. Misalnya, untuk pendampingan psikologis, karena takutnya si anak akan mendapat trauma atau tekanan dari orang tuanya.

Sedangkan untuk kasus dewasa atau cukup umur, diakui Fika, P2TP2A juga akan tetap berpihak pada si korban, pihak perempuan, apapun situasi dan kondisinya.

“Intinya, tugas utama kami dari P2TP2A adalah membuat kondisi si korban ini setidaknya menjadi seperti semula atau normal, tanpa pressure (tekanan) apapun,” pungkasnya. (bnc)