Tertangkap Basah Bersetubuh, Laki-Laki Pesakitan, Perempuan Korban???

 

TANJUNG REDEB – Apakah seseorang dapat terjerat hukum pidana karena melakukan hubungan seksual bersama pacarnya? Sementara, apa yang dilakukan tersebut merupakan keputusan bersama alias atas dasar suka sama suka.

Mungkin pertanyaan serupa banyak dilontarkan masyarakat, apalagi di tengah pergaulan pemuda zaman sekarang, yang seakan-akan melegalkan hubungan badan di luar pernikahan.

Banyak kasus yang terjadi di masyarakat, khususnya di Berau, yang melibatkan pihak laki-laki dan perempuan dalam perbuatan asusila. Seperti pasangan kekasih yang melakukan tindak persetubuhan di luar pernikahan. Ada yang masih berstatus pelajar alias di bawah umur, namun lebih banyak yang telah memasuki usia dewasa.

Dalam beberapa kasus yang terjadi, baik di bawah umur maupun telah memasuki usia dewasa, selalu pihak laki-laki yang dipersalahkan oleh keluarga perempuan, meski apa yang mereka lakukan atas kemauan dan kesadaran bersama. Sementara pihak perempuan selalu ditempatkan sebagai korban.

Hal ini kemudian dianggap menjadi sebuah ketimpangan terhadap pelaku perzinahan. Mengapa hanya pihak laki-laki yang kemudian dapat dikenakan sanksi pidana? Sementara pihak perempuan hanya sebagai korban? Demikian yang disampaikan seorang pemerhati sosial masyarakat sekaligus Kepala Satpol PP, Ahmad Ismail.

Mengapa demikian? Menurutnya, selama ini di Indonesia tidak pernah mengatur Undang-Undang tentang berpacaran. Sehingga tidak pernah ada pula aturan maupun perlindungan yang dikhususkan untuk laki-laki dan perempuan yang menjalin hubungan pacaran tersebut.

"Baik di dalam agama maupun di hukum negara kita tidak pernah ada yang mengenal istilah pacaran. Namun entah mengapa pacaran seakan menjadi tren di kalangan masyarakat kita. Berbeda dengan negara Barat yang meskipun mereka hidup serumah tanpa adanya ikatan perkawinan tapi dianggap hal yang tidak lagi tabu," katanya.

Sementara, melakukan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan akan dianggap sebagai sebuah tindakan pencabulan, apabila salah satu pihak merupakan di bawah umur. Dan akan dianggap sebagai tindakan perzinahan ketika yang melakukan keduanya adalah orang dewasa.

"Jelas kalau dari pihak perempuan, apabila keduanya melakukan hubungan seksual yang merasa paling dirugikan adalah pihak perempuan. Mau bagaimana pun pasti pihak keluarga perempuan akan menuntut laki-laki, karena hubungan keduanya dianggap tidak legal alias tidak diakui, sehingga laki-laki dianggap melakukan tindak asusila yang melanggar pasal-pasal berkaitan," jelasnya.

Meski bersalah, namun ia juga menilai bahwa keadilan hukum terhadap kedua pelaku perzinahan harus ditegakkan. Maksudnya, jika kedua pelaku di atas umur dan melakukan hal tersebut atas dasar kemauan bersama, maka yang harus menerima hukuman ialah keduanya. Sementara apabila salah satunya di bawah umur, maka berlaku undang-undang perlindungan anak sehingga yang dipidana adalah pihak laki-laki.

"Kalau dia sama-sama sudah dewasa, berarti sama-sama sudah memahami hukum dari apa yang mereka lakukan. Dalam Islam, tidak hanya satu pihak saja yang dihukum, tapi kedua-duanya yang melakukan perzinahan harus dihukum. Mestinya di masyarakat juga harus berlaku hukuman demikian, jadi kalau memang berbuat karena sama-sama mau alias ada hubungan tidak berlandaskan pernikahan diantara mereka, maka keduanya harus dihukum," tandasnya. (bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia