Berantas Narkoba, Mungkinkah?

TALISAYAN – Mungkin hanya dalam mimpi peredaran narkoba akan berakhir di Kabupaten Berau. Pasalnya, masih hangat di telinga, penangkapan dua IRT yang menjual narkoba untuk keperluan biaya persalinan oleh Polsek Tanjung Redeb beberapa hari lalu. Kini, giliran Polsek Talisayan menangkap penjual barang haram tersebut di wilayah Kampung Talisayan Kecamatan Talisayan, Jumat (5/8/2016) kemarin.

Sekitar pukul 17.00 Wita, Polsek Talisayan mengamankan Adi Jaga (48) alias Gondrong di Jalan Mahkota Kampung Talisayan. Pria berumur lanjut tersebut kedapatan tengah membawa sejumlah poket yang diduga sabu di dalam celana.

Kapolsek Talisayan, Iptu Faisal Hamid mengatakan, pengungkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat dan segera ditindaklanjuti. Benar saja, saat melakukan penyergapan di Jalan Mahkota, Gondrong yang saat itu melintas langsung dihentikan dan digeledah oleh aparat.

Alhasil, dari dalam celana pelaku, polisi mendapatkan empat poket sabu yang terdiri dari satu poket berukuran sedang dan tiga poket berukuran kecil. Sabu tersebut dibungkus dengan kertas dan kemudian diisolasi.

Tidak sampai disitu saja, petugas juga menggeledah tempat tinggal Gondrong di Jalan Rogo Jati RT 05, Kampung Talisayan. Disana, polisi juga mendapatkan satu buah penjepit dari alumunium berwarna silver yang digunakan untuk menjepit sabu. Disamping itu, polisi juga mengamankan, satu unit HP, satu buah korek gas, satu lembar celana dalam dan satu unit sepeda motor.

“Saat diamankan, pelaku tidak melakukan perlawanan,” ujarnya pada beraunews.com.

Gondrong sendiri kesehariannya berprofesi sebagai petani. Alasannya mengedarkan barang haram pun klasik, lantaran himpitan ekonomi. Saat ini, dikatakan Faisal, pihaknya masih dalam penyelidikan terkait asal-usul narkoba yang dimiliki Gondrong.

Tertangkapnya Gondrong, sekaligus juga menambah daftar hitam, dan sekaligus membentuk opini di tengah masyarakat jika selain Tanjung Redeb, Kecamatan Talisayan merupakan salah satu wilayah yang sangat diminati para pelaku bisnis obat setan.

“Alasannya menyambil jadi bandar narkoba, karena usaha taninya tidak begitu menguntungkan,” ungkapnya.

Pengungkapan kasus tersebut juga membuktikan perkataan Faisal, untuk mengangkut pelaku narkoba di Talisayan ke penjara bukan ancaman belaka. Sementara gondrong sendiri terpaksa harus gagal panen, lantaran harus mendekam dibui, akibat melanggar Pasal 114 ayat (1) atau pasal 112 ayat (1), dan pasal 127 ayat (1) huruf a UU RI nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

“Siapapun pelakunya, selagi dia masih berada di wilayah hukum Polsek Talisayan tidak akan kita ampuni,” tegas perwira berpangkat dua balok di pundak ini.(hir)