Mantan Lurah Diciduk Tim Saber Pungli

 

TANJUNG REDEB – Tim Saber Pungli Polres Berau mengamankan salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berinisial ML (55) Warga Jalan HARM Ayoeb RT 13 Kelurahan Gunung Tabur yang diduga melakukan pungutan liar (Pungli).

ML diamankan tim Saber Pungli di rumahnya sekitar pukul 21.30 Wita, Sabtu (02/09/2017) lalu. Selain ML, Tim juga mengamankan barang bukti berita uang tunai senilai Rp20 juta, surat garapan tanah, dan beberapa surat lainnya.
 
Kapolres Berau, AKBP Andy Ervyn mengatakan, pada Sabtu lalu pelapor yakni saudara Arbi Bakri (53) diminta oleh pelaku yang merupakan mantan Lurah Sei Bedungun untuk datang ke rumahnya mengambil surat garapan dan menyerahkan uang sebesar Rp100 juta. Namun, dirinya hanya mampu menyerahkan uang sebesar Rp20 juta dan sisanya akan dibayar setelah pencairan dari pihak perusahaan.
 
"Setelah penyerahan uang tersebut, saksi melaporkan kepada Tim Saber Pungli Polres Berau dan langsung ditindak lanjuti oleh tim dipimpin Kasat Reskrim dengan mendatangi TKP dan mengamankan pelaku dan BB, dan selanjutnya dibawa ke Polres Berau untuk diproses lebih lanjut," ungkapnya kepada beraunews.com, Senin (04/09/2017).
 
Terpisah, Arbi Bakri menceritakan, awal tahun 2011 lalu dirinya hanya memiliki surat garapan atas tanah yang ada di Jalan Raja Alam II sebanyak tujuh surat dengan luasan 2 Hektar per surat. Saat itu, dirinya akan membuat surat pelepasan, dan setelah surat pelepasan keluar atau jadi, dirinya tidak mengambil surat garapan sebelumnya.
 
"Jadi surat saya dulu itu garapan, setelah saya bikin surat pelepasan, saya tidak ambil surat garapannya karena saya tidak tahu. Dan beberapa hari lalu pihak perusahaan (PT Berau Coal-red) katanya akan melakukan pembebasan dan lahan saya kena," ujarnya.

 

Dikatakannya, dari pihak PT Berau Coal meminta surat tanah miliknya baik surat pelepasan maupun garapan. Namun karena garapan tidak ada dan ternyata ada sama ML, maka dirinya meminta surat tersebut kepada ML. Saat meminta surat tersebut, ML malah meminta uang sebesar Rp100 juta.
 
"Saat anak saya mau minta surat garapan itu, dia minta uang Rp100 juta, tapi kita masih cari jalan baiknya. Setelah nego-nego, harganya turun sebesar Rp75 juta," tambahnya.
 
Setelah itu, pada Sabtu lalu, anak Arbi mencarikan dana dan hanya mendapat sebesar Rp20 juta dan berencana akan memberikannya kepada ML, namun saat itu ML sedang mendatangi rumah keluarga yang meninggal dunia. Saat sore hari akan diserahkan, ML berkata jika dirinya sedang ada di Kantor Disdukcapil dan dirinya tidak mau memberikan surat jika tak diberi Rp100 juta atau ada surat pernyataan dari pihak perusahaan.
 
"Jadi saya ketemu dengan pihak perusahaan untuk meminta bikinkan surat pernyataan bahwa sisa dari Rp20 juta ini akan ditransfer. Saya juga berkoordinasi dengan polisi dan saat kita serahkan uang tersebut, polisi melakukan penangkapan di rumah ML," jelasnya.
 
Saat ini polisi masih terus mengembangkan kasus ini dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.(bnc)
 
Wartawan: Dedy Warseto/Editor: Rita Amelia