Pengurus Koperasi Jual 1 Lahan Kepada 4 Orang

TANJUNG REDEB – Kasus Koperasi Akbar Mandiri sepertinya terus memanas. Selain dugaan penyalahgunaan dana yang dilakukan pengurus koperasi, kasus terbaru kembali mencuat, yakni penjualan sebidang tanah atau lahan seluas 20.000 meter persegi dengan ukuran 200 x 100 Meter kepada 4 pihak yang diduga dilakukan oleh Ketua Koperasi.

Tiga dari empat pihak tersebut memiliki surat jual beli lahan dari Ketua Koperasi kepada mereka. Dua surat yang dibeli oleh Abdul Samad dan Iwan Setiawan, diketahui oleh Ketua RT 11 dan juga Kepala Kampung Talisayan, Yamsir. Sedangkan 2 surat lain milik Abdul Mukti Syarif dan Dormina Munte tidak diketahui kepala kampung.

Salah seorang pemilik, Iwan Setiawan mengatakan memang pada Oktober 2013 lalu ia membeli lahan dengan Ketua Koperasi seharga Rp40 juta, namun pihaknya tidak mengetahui jika lahan tersebut juga milik orang lain dengan bukti jual beli yang sama.

“Ya memang saya beli tahun 2013 lalu dan beberapa kali mendapat dana hasil dari kebun plasma tersebut,” ungkapnya saat dihubungi beraunews.com melalui saluran selular.

Disebutkan, ia tidak tahu jika lahan ini ternyata bermasalah. Pasalnya, ia membeli langsung kepada Ketua Koperasi dan beberapa hari terakhir pihaknya baru mengetahui jika lahan yang ia beli bermasalah karena juga dimiliki oleh orang lain atau tumpang tindih.

“Beberapa hari lalu saya baru tahu kalau lahan itu bermasalah setelah ada pihak kepolisian yang menghubungi,” bebernya.

Saat ini ia menyerahkan semua persoalan kepada penyidik Polres Berau selaku pihak yang menangani kasus ini agar bisa segera tuntas. Terkait status lahan tersebut pihaknya menyerahkan dengan keputusan hukum.

“Ya mau bagaimana lagi, selanjutnya kita tunggu perkembangan kasus ini saja dulu karena masih ditangani pihak kepolisian,” jelasnya.

Warga lain, Dormina Munte mengaku bahwa ia juga membeli lahan tersebut kepada Ketua Koperasi dengan harga Rp20 juta pada tahun 2012. Namun hingga saat ini Ketua Koperasi memang belum memberikan surat jual beli yang sah.

“Saya sudah bayar dengan Ketua, dan bukan hanya lahan itu tapi ada beberapa lahan termasuk dari saudara Wahab, tapi sampai sekarang saya belum terima surat  jual beli, padahal saya sudah beberapa kali mempertanyakan dan mendatangi pihak pengurus namun mereka hanya menjanjikan,” bebernya.

Terpisah, Kepala Kampung Talisayan, Yamsir menegaskan, dari seluruh bukti jual beli yang dilakukan Ketua Koperasi tersebut, pihaknya hanya menandatangani milik Iwan Setiawan. Pasalnya, dalam surat tersebut jelas ada tanda tangan dan stampel Kantor Kepala Kampung.

“Kalau surat atas nama Iwan Setiawan memang saya tanda tangan dan ada stampelnya. Lagi pula saya juga punya arsip dari surat tersebut,” jelas Yamsir.


Terkait kepemilikan surat jual beli yang dimiliki oleh Abdul Samad, Yamsir sediri tidak mau mengomentari terlalu banyak. Pasalnya ia menduga, surat tersebut palsu atau mungkin ada unsur pemalsuan tanda tangan.

“Nggak mau saya komentar kalau yang itu, karena yang saya lihat surat itu tidak sesuai dengan ketentuan. Harusnya ada stempel kantor, tapi nyatanya tidak ada. Saya pun tidak memiliki arsipnya,” ujarnya.

Yamsir berharap kasus ini bisa secepatnya terselesaikan. Pasalnya, semakin banyak oknum atau korban yang bermunculan dan bisa memperkeruh suasana.

“Di Talisayan saja sudah terjadi kubu-kubu tersendiri, seperti beberapa waktu lalu saya di datangi oleh anggota bersama pengurus, dan malamnya ada anggota lain yang datang mempertanyakan kedatangan pengurus itu, makanya saya harap bisa cepat selesai,” pungkasnya.(dws)