Pelaku Perusak Ekosistem Laut Masih Berkeliaran

TANJUNG REDEB - Aksi pengrusakan ekosistem laut dengan pola tangkap tak ramah lingkunga masih terus terjadi. Dengan cara tangkap yang merusak, mengakibatkan kerusakan yang meluas pada terumbu karang di banyak kawasan pesisir Kabupaten Berau. Seperti Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Batu Putih, Biduk-Biduk dan beberapa kawasan lainnya.

Kabar beberapa pengungkapan kasus aksi bom ikan, meski tidak tangkap tangan belakangan masih saja terdengar. Ancaman berat terhadap pelaku bom ikan, penggunaan potasium, dan alat tangkap yang dilarang seperti pukat harimau pernah dilakukan aparat kepolisian.

Sayangnya, aksi ini tidak cukup ampuh untuk membuat pelaku lain jera. Ancaman Undang-Undang Darurat Nomor 12/1951, bagi pelaku pengguna bom ikan tidak membuat pelaku lain takut, justru membuat pelaku yang belum tertangkap semakin mahir.

Hal ini tentunya memerlukan penanganan serius, bersama dan berkesinambungan. Mulai dari tindakan  persuasif hingga preventif. Sosialisasi mulai dari instansi pemerintah daerah seperti Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan dan Polsek-Polsek di Berau.

Sementara tindakan keras berupa sanksi kepada pelaku bom ikan dan pemilik juga sudah sering dilakukan. Kapolsek Biduk-biduk, AKP Suradi menyebutkan, pelaku yang diamankan sudah diproses sesuai prosedur berlaku dengan dijerat Undang-Undang Darurat.

“Hanya memang pelaku-pelaku lain semakin cerdik dalam menjalankan aksinya, seperti menyebunyikan bom rakitannya di Pulau-pulau yang tak berpenghuni, ditanam dalam pasir, jadi kita juga kesulitan mendeteksi,” jelasnya.

Sementara kerusakan yang ada sudah semakin parah. Seperti sempat diungkapkan Kabid Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Berau, Yunda Zuliarsih, kerusakan terumbu karang di Berau dipengaruhi banyak faktor, namun dominan akibat manusia.

“Seperti penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan, bom ikan, ada juga akibat banyaknya sedimen yang terlarut di air laut, jika dibiarkan tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan terumbu karang kita habis,” bebernya.

Jejak kerusakan seperti ditinjau tim beraunews.com di Pulau Rabu-rabu, Kecamatan Pulau Derawan menunjukan kerusakan parah. Menurut Anggota Berau Coal Diving club, Abidzar Alghifari, ada banyak terumbu karang yang rusak dikawasan ini.

“Dalam beberapa kali penyelaman untuk evaluasi kita dapati ada banyak kerusakan yang terjadi, makanya kita coba terobosan membuat karang buatan yakni reef stupa untuk menggantikan karang yang rusak, ini juga berfungsi sebagai penahan abrasi,” jelasnya.(ana)