4 Ekor Anak Buaya Nyaris Diselundupkan

 

TANJUNG REDEB - Jajaran Polsek Teluk Bayur mendapat informasi terkait adanya upaya penyelundupan 4 ekor anak buaya berukuran kecil di Bandar Udara Kalimarau sekitar pukul 14.00 Wita, Selasa (09/05/2017).

Kapolsek Teluk Bayur, AKP Tatok Tri Haryanto mengatakan, penyelundupan buaya ini pertama kali digagalkan oleh Aviation Security (Avsec) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kalimarau. Guna mengelabui petugas bandara, anak buaya tersebut dimasukkan dalam kotak tupperware dengan label makanan atau kue.

"Kami dapat informasi dari petugas Avsec dan selanjutnya kami berkoordinasi dengan BKSDA dan juga salah satu jasa pengiriman yang ada di Berau, karena barang melalui jasa pengiriman," ungkapnya kepada beraunews.com.

Selanjutnya, Intel  Polsek Teluk Bayur melakukan pengembangan dan berkoordinasi ke jasa pengiriman untuk mengetahui siapa pemilik barang tersebut. Sekitar 14.00 Wita, pemilik barang tersebut berhasil diamankan.

"Kami koordinasikan dan akhirnya pemilik barang berinisial Md (30) warga Kampung Sei Bebanir Bangun, kami amankan dan dibawa ke Mapolsek Teluk Bayur untuk dimintai keterangan," lanjutnya.

Dari hasil keterangan sementara, pelaku mengaku jika buaya-buaya tersebut dibelinya dari nelayan dengan harga Rp50 ribu per ekor dan akan dikirim ke wilayah Surabaya untuk dijual dengan harga Rp200 ribu per ekor.

"Ngakunya sudah beberapa kali. Buaya ini dia jual melalui situs jual beli di sosial media dan setelah dapat pembeli, barulah dikirim ke wilayah atau daerah si pembeli," ucapnya.

Terpisah, Kepala Bandara Kalimarau, Bambang Hartato mengakui jika upaya penyeludupan ini sudah dua kali dilakukan.

“Awal April lalu pernah juga sebanyak enam ekor hendak diseludupkan ke Jakarta dengan menggunakan penyedia jasa pengiriman juga,” ungkapnya.

Bambang mengatakan, jika dilihat dari cara packing hewan ini, nampaknya si pemilik barang sengaja mengelabui petugas dengan cara buaya dimasukkan dalam kotak plastik, dan di dalam kotak tersebut dijejali kertas sehingga buaya-buaya tersebut tidak leluasa bergerak dan minim suara gerakan dari dalam.

“Yang juga menimbulkan kecurigaan petugas, ada tulisan segera. Jika itu makanan tidak ada tulisan itu, dan setelah diperiksa di x-ray barulah kelihatan,” ucapnya

 

AKP Tatok Tri Haryanto juga menambahkan, jika buaya muara termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam lampiran PP Nomor 7/1999, dan ada ketentuan dalam undang-undang Nomor 5/1990, bahwa barang siapa dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup (Pasal 21), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00.

"Yang jelas kasus ini masih kami kembangkan, dan pemilik barang atau satwa ini masih kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut," pungkasnya. (bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: Rita Amelia