Penyebar Berita Hoax Siap-Siap Berhadapan dengan Hukum

 

TANJUNG REDEB – Beberapa berita yang muncul di sosial media (Sosmed) terkait adanya penculikan anak menjadi viral. Bahkan, berita tersebut saat ini membuat beberapa warga Berau resah. Selain itu, sempat juga beredar kabar terkait penemuan mayat anak di bawah tower, tepatnya di Kecamatan Gunung Tabur.

Terkait hal ini, Kapolres Berau, AKBP Handoko melalui Kasat Reskrim AKP Damus Asa mengatakan, jika orang yang menyebarkan berita hoax atau yang belum diketahui kebenarannya, bisa dikenakan sanksi pidana pelanggaran undang-undang ITE.

Berita hoax yang sedang menjadi perbincangan (trending topic) di Kabupaten Berau melalui sosial media lainnya, bisa saja para pelaku penyebarannya dijadikan tersangka. Jika berita yang disebarkan di sosial media membuat kekhawatiran masyarakat, maka pelaku atau pemilik akun akan diperiksa.

"Tak jarang, orang juga membuat akun palsu untuk menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya. Tapi kami akan selidiki dan periksa jika memang akun itu jelas, apalagi di wilayah hukum kita," tambahnya.

Beberapa contoh oknum yang terkena undang-undang ITE menjadi perhatian tersendiri. Pasalnya, bukan hanya memposting berita hoax saja, namun perkataan tak santun yang mengarah ke isu SARA pun bisa terkena.

"Bukan cuma yang membuat postingan, tapi juga orang yang berkomentar di sebuah postingan dengan tidak santun, bisa berdampak buruk atau merugikan diri sendiri," terangnya.

Di Berau sendiri, lanjut Damus, sudah ada yang pernah terkena sanksi undang-undang ITE karena berkomentar di sebuah postingan dengan tidak santun dan membuat beberapa pihak keberatan, hingga si pemilik akun dilaporkan. Kasus tersebut juga sudah ditangani dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Berau.

"Sudah ada contohnya, jadi diimbau masyarakat bisa lebih hati-hati dalam kebebasan berpendapat, jangan sampai berkata atau menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: R. Amelia