Ini Pengakuan Si Pelaku Sodomi, Ternyata...

 

TANJUNG REDEB – Pelaku sodomi bernama Bambang (36) kini telah mendekam di balik jeruji Polres Berau. Apa sebenarnya motif Bambang melakukan sodomi ini? Ini penjelasan Bambang kepada beraunews.com.

Saat ditemui di Mapolres Berau sekitar pukul 13.30 Wita, Selasa (07/02/2017) tadi. Bambang menceritakan awal ketertarikannya terhadap anak dibawah umur. Diakuinya, ketertarikan itu datang begitu saja secara tiba-tiba, saat melihat anak-anak. Namun, tidak semua anak-anak yang membuat dia tertarik.

"Saya tidak tahu juga bagaimana awalnya. Saat saya jalan dan saya lihat anak-anak itu, timbul begitu saja nafsu saya, tapi tidak semua anak-anak yang bikin saya nafsu," ungkapnya kepada beraunews.com.

Bambang menjelaskan, saat nafsunya muncul ketika melihat seorang anak, dirinya langsung mendekati anak tersebut dan beralasan untuk meminta ditunjukkan dimana kolam pemandian di Kecamatan Sambaliung. Dengan iming-iming uang Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, dirinya berhasil mengajak anak-anak yang menjadi targetnya.

"Saat saya ajak, tidak pernah ada yang menolak. Setelah dia naik ke motor, langsung saya bawa ke rumah kosong di Jalan Poros Bangun, melewati pembuangan sampah di sana," tambahnya.

BACA JUGA : Pelaku Sodomi Belum Tentu Pedofil

Di lokasi yang sepi dari arus lalu lintas tersebut, Bambang mulai melancarkan aksinya dengan membawa korbannya masuk ke rumah kosong, dan mulai membujuk si korban untuk membuka celananya.

"Tidak ada perlawanan atau mereka marah saat saya buka celananya atau saya "anu" , kan saya kasih dia uang," bebernya.

Sejauh ini, Bambang mengaku jika baru 3 anak yang menjadi korbannya dengan tempat kejadian perkara (TKP) yang sama. Namun, diakuinya jika barangnya tidak sampai masuk ke anus korbannya atau hanya sekadar menempel, karena dengan cara itu, diakuinya bisa melampiaskan nafsunya.

"Yang pertama dan kedua saya bawa pengharum cucian untuk memudahkan barang saya masuk, tapi selama saya lakukan tidak sampai masuk. Sedangkan yang ketiga kalinya ini, saya tidak pakai itu," ucapnya.

Sejak 2003 lalu, dirinya sudah berpisah dengan istrinya yang saat ini berdomisili di Samarinda. Selama ini biasanya ia melampiaskan nafsu birahinya dengan cara "jajan" WTS. Namun, entah mengapa dalam beberapa bulan terakhir ini ia juga bernafsu ketika melihat anak-anak.

"Sudah ada istri, tapi kami pisah sejak 2003 lalu. Biasanya saja “jajan”, tapi tidak tahu kenapa saya mulai nafsu dengan anak-anak," akunya.

Dirinya juga mengaku tidak bisa membedakan apa yang ia rasakan saat melakukan hubungan seks dengan wanita dewasa atau dengan anak-anak, yang jelas ia bisa menyalurkan nafsunya.

"Sama saja, tidak ada yang beda, yang jelas nafsu saya bisa tersalurkan dan paling lama saya sodomi korban itu selama 3 menit saja," tambahnya.

Setelah berhasil melancarkan aksinya, si korban langsung diantar kembali ke tempat dimana ia pertama menjemput si korban. Ia juga tak takut jika si korban menceritakan perbuatannya ke orang tuanya. Bambang langsung pergi begitu saja meninggalkan korban dengan uang imbalan yang ia janjikan di awal pertemuan.

"Tidak ada ancaman ke dia (korban-red). Setelah saya lakukan itu, ya saya antar lagi ke tempat saya menjemputnya," bebernya.

Pengakuan mengejutkan juga keluar dari mulut Bambang. Saat ia masih duduk di bangku SMP di kampungnya, ia dan beberapa temannya juga pernah disodomi oleh orang dewasa. Namun, dari pengakuannya, kelamin orang tersebut tidak masuk, hanya ia pegang dengan posisi-posisi yang diinginkan si pelaku.

"Dulu ada orang yang kerja di kapal sering lewat, jadi kami gombal-gombal, maksudnya kami pancing-pancing untuk melakukan "itu", tapi kami minta dibayar. Tetapi barangnya tidak masuk, cuma kami mainkan saja. Yang penting kami dapatkan uang mereka. Kalau dulu kami dikasih Rp150 ribu untuk bertiga," katanya.

Terkadang, ada beberapa orang yang menawarkan mereka kepada teman orang tersebut, dan mereka pun dibawa untuk melayani. Saat itu, yang penting di benak Bambang adalah mendapatkan uang.

"Ya namanya dulu kan kami juga hanya mainkan barangnya, tidak sampai masuk, intinya yang penting kami dapat uangnya saja," pungkasnya.

Lantas, apakah sodomi yang dilakukan saat ini merupakan pembalasan dari masa kecilnya? Ataukah karena ia memang memiliki penyimpangan seksual? Ini yang masih menjadi pertanyaan besar.(bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: R. Amelia