Istri Tersangka AW Dimintai Sejumlah Uang

 

TANJUNG REDEB – Ditetapkannya AW, warga Talisayan sebagai tersangka kasus penipuan jual beli lahan, ternyata diduga dimanfaatkan oleh seorang perempuan berinisial SD. SD dalam hal ini mengaku bisa membantu istri AW untuk mengurus kasus dengan membayar sejumlah uang kepada penyidik hingga Kasat Reskrim.

Istri AW, Ema Ratna Pury mengatakan, sebelumnya ia bertemu dengan SD di Mapolres Berau saat mengurus keperluan suaminya. Disana, Ema menceritakan kasus yang membelit sang suami dan SD menawari jasa untuk membantu mempermudah kasus suaminya itu.

"Katanya dia kenal banyak polisi sampai orang kejaksaan. Jadi dia minta uang pertama kali Rp1,5 juta untuk operasional mengurus kasus ini agar tidak semakin panjang," ungkapnya saat ditemui beraunews.com, Jumat (13/01/2017).

Dikatakannya, setelah berjalan beberapa hari, SD kembali meminta uang sekitar Rp2,5 juta dengan alasan untuk memberi pihak kepolisian. Demi sang suami, Ema pun mengirim uang ke rekening atas nama SD sesuai dengan yang dibutuhkan.

"Tidak lama kami bertemu lagi di Polres, dia minta lagi uang Rp1 juta dengan alasan yang sama," tambahnya.

BACA JUGA : Tersangka Kasus Penipuan Jual Beli Lahan Tidak Bebas, Tapi...

Beberapa hari di Tanjung Redeb, Ema mengaku tinggal di rumah SD. Di sana ia terus diminta sejumlah uang untuk kasus ini. Namun, karena tidak tahan, ia pun pulang ke Talisayan untuk menjemput adiknya, agar bisa membawa pulang mobilnya ke Talisayan.

"Ada mobil saya di rumah ibu SD, setelah saya kembali ke Tanjung Redeb dengan adik saya, mobil sudah tidak ada, dan katanya ia pakai untuk jalan dengan pihak kepolisian dan kejaksaan guna mengurus kasus suaminya," katanya.

Sebenarnya, beberapa kali SD meminta uang dalam jumlah yang besar yakni Rp50 juta. Namun, karena kondisi keuangan sudah tidak ada lagi, Ema pun tidak bisa menyanggupi apa yang diminta SD.

"Karena saya tidak punya uang, permintaannya turun jadi Rp15 juta. Tapi saya memang tidak ada uang lagi sebanyak itu," jelasnya.

Bahkan, SD pernah meminta Ema untuk menjual rumahnya agar kasus ini bisa segera selesai dan sang suami dibebaskan. Namun, karena ia merasa tidak ada perubahan atas kasus yang menjerat suaminya, ia pun tidak lagi memperdulikan permintaan itu.

"Saya juga tidak ingat kapan-kapan saya kasih dia dana. Hanya beberapa yang saya ingat, dan ada juga bukti transferan," bebernya.

Menurut informasi yang ia ketahui, mobilnya yang sempat digunakan oleh SD diambil oleh dealer karena ada tunggakan pembayaran. Namun, hal tersebut pun tidak diberitahukan SD kepadanya.

"Mobil itu ditarik dealer atau leasing, tapi dia tidak bilang ke saya," tambahnya.

Selain mengurus perkara jual beli lahan, SD juga sebelumnya pernah diberi dana sekitar Rp25 juta, untuk menangani kasus penyalahgunaan dana plasma yang juga menjerat suaminya. Namun, tidak ada hasil, malah suaminya ditetapkan sebagai tersangka.

Saat ini, Ema sudah melaporkan apa yang dialaminya ke Mapolres Berau, agar pihak yang merugikannya tersebut bisa segera ditangkap, dan juga mengantisipasi adanya korban-korban yang lain.

 

Terpisah, Kepolres Berau, AKBP Handoko melalui Kasat Reskrim Polres Berau, AKP Damus Asa mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan dari korban, dan saat ini tengah dilakukan penyelidikan dengan mengumpulkan sejumlah barang bukti. Dari laporan yang ada, pelapor mengatakan sudah memberi dana yang berdasarkan bukti transfer sekitar Rp9 juta. Namun yang tidak ada buktinya sekitar Rp40 juta.

"Baru ini yang dia tahu, tapi ini masih kami kembangkan," terangnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan penyidikan ke dalam atau internal Polres untuk mengetahui apakah ada oknum kepolisian yang bermain dalam kasus ini atau tidak. Namun, sejauh ini hasilnya nihil.

"Di internal kami juga kami lakukan penyelidikan, karena terlapor mengatakan memberi uang ini ke sejumlah penyidik hingga kasat. Ini mengejutkan dan akan kami lakukan penyelidikan," pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: R. Amelia