Tak Hanya Pulau Sangalaki Sasaran Empuk Pencurian Telur Penyu

TANJUNG REDEB – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim membenarkan jika Pulau Sangalaki menjadi lokasi paling rawan dan sarang empuk bagi pelaku pencurian telur penyu.

Namun, Kepala Seksi I BKSDA Kaltim, Aganto Seno menyebutkan, dari 31 pulau yang ada di wilayah Kepulauan Derawan, sebenarnya bukan hanya Pulau Sangalaki yang menjadi sasaran utama para pelaku pencurian telur penyu itu. Bahkan, lebih parah lagi, banyak pulau tempat penyu bertelur yang tak pernah dijaga.

“Disana (Pulau Sangalaki-red) memang pelaku pencuri telur penyu kerap masuk mencuri dan bahkan mengancam anggota kita disana. Tapi, jangan hanya fokus dengan kasus di Sangalaki dan jangan mengatakan Pulau Sangalaki saja yang menjadi tempat utama aksi pencurian mereka. Lihat saja contohnya Pulau Belambangan dan Pulau Sambit, disana merupakan tempat penyu bertelur dan bahkan tidak ada yang jaga,” ungkapnya saat berbincang dengan beraunews.com, Selasa (7/6/2016) di Kantor BKSDA Jalan Dermaga, Tanjung Redeb.

Dikatakannya, kondisi ini sudah dilaporkan pihaknya ke pihak kepolisian. Namun yang menjadi kendala, saat petugas menemukan pelaku, polisi justru mengalami kendala armada untuk menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Ada waktu itu, kebetulan saya di Pulau Sangalaki. Saat itu, pelaku kesulitan meninggalkan lokasi karena kondisi air laut sedang surut dan speedboadnya di ujung dermaga. Langsung saja kami hubungi Polsek terdekat, tapi ya itu mereka tidak bisa merapat karena tidak ada armada, sebab kejadiannya tengah malam. Kami juga tidak bisa mendekat karena kita juga takut mereka menggunakan senjata tajam. Saya cuma selalu sarankan kepada tim yang bertugas disana (pulau sangalaki-red) agar menghindari kontak fisik dengan pelaku. Kalau mereka melawan, jangan dilayani,” ujarnya.

Berdasarkan data dari BKSDA diketahui kasus pencurian telur penyu di Pulau Sangalaki terus mengalami peningkatan, dimana tahun 2013 tercatat 5 kasus dengan 28 sarang penyu hilang dari 4.552 jumlah sarang yang teramati atau 0,62 persen. Tahun 2014 tercatat ada 10 kasus pencurian telur penyu dengan 78 sarang penyu hilang dari 3.134 sarang yang teramati atau 2,49 persen dan di tahun 2015 tercatat ada 19 kasus pencurian telur penyu dengan 71 sarang penyu hilang dari 1.755 sarang yang teramati atau 4,05 persen.

“Dari data tiga tahun terakhir ini memang kasus pencurian telur penyu di Pulau Sangalaki meningkat. Terkait dengan masalah menghadapi pemburu telor penyu, anggota kami sudah masuk dalam tim kelas menembak dan berharap dibekali senjata juga dari pimpinan, nanti kita lihat saja kebijakan dari Kepala Balai karana untuk pembekalan senjata api disini masih mengalami kendala mengingat kami tidak punya gudang senjata. Tapi kalau melihat kondisi disana, saya rasa belum layak lah anggota dibekali senjata api,” tutupnya.(ea)