Pulau Sangalaki Sasaran Empuk Pencurian Telur Penyu

PULAU DERAWAN – Pulau Sangalaki menjadi lokasi konservasi penyu hijau terbesar di Indonesia yang dikelola pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim. Setiap malam, puluhan penyu hijau naik ke pantai untuk membuat sarang dan bertelur. Namun ternyata, Pulau Sangalaki juga menjadi lokasi yang paling rawan dan sarang empuk bagi pelaku pencurian telur penyu.

Didit Suardi, Mitra Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA yang bertugas menjaga wilayah konservasi Pulau Sangalaki mengungkapkan hal itu. Ia mengatakan hampir setiap minggunya, dirinya menemukan aksi pencurian telur penyu saat melakukan patroli rutin di pantai. Didit bukanya diam saja, ia selalu memberikan peringatan agar mereka tak melakukan aksi tersebut. Setelah itu, mereka pun pergi, namun ada juga yang melakukan perlawanan dengan mengancam menggunakan senjata tajam.

“Disini (Pulau Sangalaki-red) memang tempat yang sering didatangi pelaku untuk mencuri telur penyu. Mereka biasanya beraksi malam hari, jumlahnya tak tau, tapi saya lihat mereka beraksi secara berkelompok. Tadi malam saja terjadi lagi,” ungkapnya saat berbincang bersama beraunews.com di pos konservasi Pulau Sangalaki, Minggu (5/6/2016).

Didit mengaku jika ia bersama kedua rekanya sudah berkali-kali melaporkan pencurian itu ke BKSDA dan kepolisian setempat. Namun saat petugas datang kesini, para pelaku selalu berhasil kabur.

“Kejadian ini sudah berkali-kali kami laporkan ke BKSDA di Jalan Dermaga Kecamatan Tanjung Redeb. Polisi juga berkali-kali datang kesini untuk mengintai pelaku, namun saat polisi datang, para pelaku tidak ada yang muncul. Sepertinya mereka tahu saat petugas datang kesini,” ujarnya.

Dikatakannya, pelaku diketahuinya merupakan orang pesisir Pulau Derawan. Ada yang dia kenal dan ada juga yang tidak. Namun dirinya tidak mau berkomentar lebih jauh soal identitas para pelaku tersebut.

“Yang  jelas pelakunya itu warga sekitar sini juga. Saya tahu identitasnya dan ada juga yang tidak. Namun kita masih belum cukup bukti soal pelaku yang saat ini kami jadikan Target Operasi,” ucapnya.

Meski mendapat resiko tinggi dengan taruhan nyawa sekalipun, Didit bersama kedua rekanya tetap semangat menjalankan tugasnya di Pulau Sangalaki.

“Saya juga merasa was-was jika bertemu mereka, apalagi jika mengancam. Tapi kalau kami tegur tak mereka turuti, ya bagaimana lagi. Kami tidak bisa apa-apa, kami hanya bisa mengadu ke kantor. Saya tahu menjaga wilayah konservasi di Pulau Sangalaki ini resikonya sangat tinggi, tapi itu tidak masalah, saya bisa jaga diri dan menjaga batasan saat menghadapi pelaku pencuri telur penyu disini,” tutupnya.(ea)