Penggusuran Terbesar Di Berau, Sisakan Luka Mendalam

TANJUNG REDEB – Eksekusi tanah sengketa yang dihuni 35 kepala keluarga warga RT 7 dan RT 27 Jalan Pulau Panjang, Tanjung Redeb, Senin (30/5/2016) lalu, masih menyisakan luka mendalam bagi warga.

Samlan misalnya, hingga saat ini tidak mau meninggalkan lokasi penggusuran. Pria tua renta tersebut justru membangun tenda kecil beratapkan sisa-sisa bahan bangunan rumahnya.

Lain lagi yang dilakukan Rusminah. Perempuan berusia 45 tahun tersebut hingga hari ke tiga pasca eksekusi, masih terus mengais sisa sisa bangunan yang masih bisa dimanfaatkan. Meski menderita penyakit asma, tak membuatnya berhenti memilah sisa sisa bangunan rumahnya.

"Ya begini lah, cari sisa-sisa kayu bekas rumah saya yang diratakan sama tanah. Siapa tau masih bisa dipakai lagi," tuturnya seraya memikul kayu miliknya saat ditemui beraunews.com.

Rusminah mengaku, kayu sisa bangunan yang dikumpulkanya tersebut akan di bawa ke rumah kerabatnya yang menjadi  tempat tinggal sementara dirinya bersama ketiga anak dan suaminya.

"Suami saya lagi sakit, jadi ya terpaksa saya yang tangani. Kayu-kayu ini mau dibawa ke rumah kerabat, maklumlah kami tinggal sementara disana. Habis mau dimana lagi, rumah satu-satunya sudah digusur, " tambahnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua RT 27, Faidal, mengaku sangat prihatin dan turut merasakan kepedihan yang dialami oleh warganya. Menurutnya, eksekusi pemukiman tersebut merupakan kasus terbesar yang pernah terjadi di Kabupaten Berau sejak beberapa puluh tahun belakangan.

"Sangat sedih sekali melihat mereka (warga penggusuran-red) saat ini. Kami juga bisa merasakan bagaimana kesusahan yang menimpa mereka. Tapi kami selaku RT tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya membantu materil dan doa kepada mereka. Sebab eksekusi yang dilakukan pengadilan itu adalah keputusan hukum yang harus dihormati," ungkapnya saat ditemui beraunews.com dilokasi kejadian.

Ia mengaku tidak banyak mengetahui tentang perkara tersebut. Sebab baru menjabat menjadi Ketua RT awal Januari 2016 lalu.

"Kalau soal perkara tanah sengketa ini saya jujur tidak begitu mengetahui seluk beluknya, sebab saya sebelumnya adalah warga dari luar RT ini dan baru menjabat jadi Ketua RT beberapa bulan dari sebelumnya menjadi Sekretaris RT. Saya baru tahu kasus ini sejak meledak beberapa waktu lalu, dan pada tanggal 7 Mei lalu saat hendak dilakukan eksekusi ada perlawanan oleh warga, tapi pada 30 Mei kemarin tidak bisa lagi melawan," jelasnya.

Sampai Rabu (1/6/2016) kemarin, warga penggusuran dikatakannya, masih menerima beberapa bantuan dari pihak yang peduli. Antara lain dari pihak Satuan Polisi Pamong Praja Berau yang menyalurkan bantuan berupa beras, indomie, dan air mineral. Juga turut hadir dalam melakukan aksi peduli adalah Komunitas Motor Gede (Moge) yang memberikan kebutuhan rumah tangga seperti minyak goreng, gula pasir dan sebagainya.

"Bantuan ada beberapa yang masih diberikan oleh pihak-pihak yang perhatian, berupa makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Dan yang paling diharapkan adalah bantuan dari pemerintah setempat secepatnya. Jangan hanya menjadi wacana saja. Para warga ini harus diberikan kepedulian yang benar-benar nyata agar dapat terbantu baik secara materil maupun moril," tutupnya.(mta/msz)