Kakek Syamlan : Saya Terus Bertahan Sampai Ketemu Kumala Jaya

TANJUNG REDEB – Sudah hampir sepekan lamanya, Syamlan, kakek berusia 85 tahun masih tetap kukuh bertahan dilokasi pembongkaran Jalan Pulau Panjang. Rumahnya kini telah rata dengan tanah, pasca pelaksanaan eksekusi lahan sengketa Senin (30/5/2016) lalu.

Setelah lima hari bertahan di bawah tenda kecil tak layak, kini Syamlan terlihat menempati sebuah pondok kecil yang jauh lebih layak. Pondok itu, dibuat oleh anaknya, Sabtu (4/62016) malam. Bukan tanpa alasan, anak-anak Syamlan bergotong royong membuatkan pondok kecil tersebut, lantaran tak tega melihat ayah mereka siang malam tidur di bawah tenda kecil dengan kondisi kehujanan dan kepanasan setiap hari.

“Saya bersama saudara malam ini berinisiatif membuatkan bapak (Syamlan-red) pondok, artinya tempat yang layak dari sebelumnya. Sebagai anak, kami tenuntunya tidak tega melihat kedua orang tua kami siang malam tidur dibawah tenda kecil dengan kondisi seperti ini. Panas kepanasan, hujan ya kehujanan. Kami juga sudah berkali-kali membujuk bapak untuk pindah ke rumah kami, tapi beliau tidak mau,” ujar Badrudin, anak terakhir Syamlan yang tinggal di Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur.

Sampai saat ini, Syamlan bersama istrinya masih bertahan di atas puing-puing bangunan rumahnya. Dirinya pun kini mulai terserang penyakit, seperti masuk angin. Syamlan juga sempat menyampaikan kepada beraunews.com bahwa dirinya sangat menantikan kehadiran Kumala Jaya untuk datang menemuinya.

“Saya mulai merasakan sakit dada dan masuk angin, baru saja saya tadi diurut. Pokoknya saya akan terus bertahan disini sebelum semuanya tuntas, ini hak saya. Saya mau Kumala Jaya datangi saya disini, saya ingin mendengar penjelasanya. Saya tidak kenal Kumala Jaya, seumur hidup saya tak pernah melihat yang mana orangnya,” ujar kakek yang memiliki 20 cucu itu.

Syamlan sendiri mengaku memiliki surat lengkap atas kepemilikan lahan sengketa tersebut. Dia membeli tanah tersebut sejak tahun 1978, dengan luas 700 meter persegi. Selain itu, dia mengaku selalu rutin bayar pajak setiap tahun.

“Dahulu disini merupakan lahan perkebunan milik saudara mertua saya dan kemudian di tahun 1978 saya beli. Sekarang ini saya lihat ada pekerja yang mulai memasang pagar seng pembatas, tapi saya minta agar pembatas tempat saya sekarang ini tidak dipasangi pagar,” pungkasnya.(ea)